Showing posts with label Unique Destinations. Show all posts
Showing posts with label Unique Destinations. Show all posts

Friday, August 11, 2017

Transaksi Tedong di Toraja, Ketika Seekor Kerbau Begitu Bermakna

Menikmati eksotisme Toraja belumlah komplit bila belum mampir di Pasar Bolu Rantepao, Toraja Utara. Sebuah pasar yang unik, karena pada hari-hari tertentu akan ramai proses transaksi “Tedong” atau kerbau yang dikhususkan untuk upacara adat pemakaman Toraja. Tak ayal, sebuah proses transaski yang mungkin melebihi bursa efek, dimana milyaran uang uang mengalir.

Tentu transaksi “Tedong” di pasar ini, mempunyai caranya yang khas untuk “uji tuntas” atau sering disebut due diligence dalam lantai bursa. Transaksi benar-benar mempunyai kriteria ketat, bahkan sulit untuk dinalar dalam transaski jual beli hewan pada umumnya.

Harga kerbau bahkan bisa mencapai miliaran, tergantung tipe atau jenis yang menentukan kastanya. Biasanya, kerbau akan dilihat dari ukuran, bentuk, tanduk serta perpaduan warnanya.

Kerbau yang paling mahal, adalah kerbau “Saleko” atau sering disebut kerbau bule. Menurut laman torajaparadise.com, harganya bisa sangat fantastis mencapai miliaran rupiah. Cirinya, kerbau mempunyai warna kulit yang unik, perpaduan warna dasar putih serta belang hitam, dengan tanduk kuning gading serta bola mata berwarna putih. Sedangkan kerbau yang paling murah, disebut sebagai kerbau Kudu yaitu kerbau hitam biasa.

[caption id="attachment_1751" align="aligncenter" width="640"] Kerbau-kerbau yang menanti pembeli di Pasar Bolu Rantepao, Toraja Utara. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Mengapa, transaksi “Tedong” begitu mahal, hal itu karena menyangkut ritual adat “Rambu Solo” sebuah ritual upacara pemakaman. Sebuah ritual yang sering disebut Aluk Rampe Matampu. Sebuah ritus pemakaman yang berarti “sesudah pukul 12, ketika matahari sudah berada di sebelah barat.”

Hal itu, menyangkut sebuah pandangan budaya bahwa selama hidup ini, masyarakat Toraja hendaknya bekerja keras untuk mengumpulkan kekayaan yang harapannya untuk mengirimkan mereka selamat menuju haribaan surga. Maka, transaksi “Tedong” yang begitu mahal, bukan sesuatu yang menggelisahkan bagi mereka.

Benar, kata orang, istilah Toraja berasal dari bahasa Bugis, riaja, yang berarti "orang yang berdiam di negeri atas." Untuk itu, jangan lupa ya, jika berkunjung ke Tana Toraja, mampirlah ke Pasar Bolu Rantepao Toraja Utara. Bukan sekadar pasar biasa, Pasar Bolu menyajikan sebuah fenomena budaya yang khas dan mewarnai pesona Indonesia ini.
Read more

Berkunjung ke 'Negeri Atap Angin' Toraja

Memang benar, ketika Anda mengunjungi Tana Toraja, Anda akan disuguhi fenomena budaya yang unik dan eksotis menyangkut kematian dan pemakaman. Maka, benar apa yang sering dikatakan banyak orang, mengunjungi Tana Toraja seperti memasuki negeri “atap angin” (highlanders).

Dalam laman ancient-origins.net, pada zaman sebelum Belanda mendatangi Tana Toraja, ada banyak permukiman otonom yang mempraktikkan animisme. Sebagian besar dari mereka memandang kebersatuan antara dunia, termasuk hewan, tumbuhan, dan bahkan bahkan benda mati yang memiliki kebersatuan dalam kosmos spiritual.

Awalnya, Tana Toraja menjadi negeri “atap angin” yang tak tersentuh. Namun, semenjak misionaris Belanda tiba, akhirnya mulai masuklah agama lain yang bertemu dan berpadu dengan adat Toraja.

Tetapi, Anda sekarang ini masih menyaksikan keindahan dan eksotisme negeri Toraja dengan pemakaman purbanya yang begitu unik. Sebuah tradisi pemakaman kuno yang telah dipraktekkan selama berabad-abad dan dikenal sebagai tradisi pemakaman yang paling kompleks di dunia. Mereka menamai dengan istilah adat “Rambu Solo” dengan sisa-sisa nuansa kepercayaan Aluk Todolo atau "Jalan Leluhur."

Bagi orang Toraja, kehidupan berdekatan dengan kematian. Bagi mereka, pemakaman adalah perayaan besar kehidupan, sama seperti pesta dimana hal itu merupakan kesempatan seluruh keluarga almarhum dan semua anggota desa ambil bagian.

Oleh karena itu, jika Anda mengunjungi Tana Toraja, buatlah daftar mana saja yang siap Anda datangi. Mulailah dari yang paling dikenal, yaitu wisata desa Kete Kesu. Sebuah desa yang dirajut begitu apik dengan kompleks rumah adat Tongkonan. Pada bagian atas tebing, terdapat kuburan batu yang berusia ratusan tahun.

[caption id="attachment_1746" align="aligncenter" width="640"] Kete Kesu (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Lalu, ada wisata Londa yang dikelilingi perbukitan curam yang begitu mistik nan eksotis. Nuansa Londa memang agak berbeda dengan Kete Kesu. Londa lebih memberikan nuansa mistik. Bahkan, di Londa yang terletak kurang lebih sekitar 7 km di selatan Kota Rantepao ini, dikenal ada kisah tragis sepasang muda-mudi yang meninggal bunuh diri karena tidak direstui keluarga. Mereka dimakamkan bersama ratusan pemakaman yang lain. Hanya, karena sepasang muda-mudi ini mempunyai status sosial yang rendah dan mati bunuh diri, tidak dimakamkan di atas bukit, namun di dalam gua yang curam.

[caption id="attachment_1745" align="aligncenter" width="640"] Londa (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Daftar berikutnya yang tak kalah asyik, adalah wisata Bori Parinding. Dimana di tempat ini, terdapat puluhan makam batu yang ditata dengan batu-batu menhir berukuran raksasa. Batu-batu menhir tersebut nantinya berfungsi sebagai tiang untuk mengikat kerbau yang akan disembelih saat upacara Rambu Solo.

[caption id="attachment_1744" align="aligncenter" width="640"] Bori Parinding (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Jangan lupa juga, mampirlah ke Lokomata, sebuah pemakaman dengan batu besar di pinggir jalan. Di Lokomata, ada sebuah batu berukuran raksasa yang dilubangi untuk menempatkan jenazah orang yang meninggal.

[caption id="attachment_1743" align="aligncenter" width="640"] Lokomata (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Silakan Anda pilih, tentu masih banyak wisata eksotis nan mistik di Tana Toraja ini. Siapkan cara pandang Anda, untuk melihat keunikan itu. Keunikan dari sisa-sisa peradaban purba yang begitu asyik untuk dinikmati. Apalagi, Tana Toraja sudah menjadi keindahan dunia, bahkan terekam dalam sorot kamera National Geographic untuk dihadirkan di tingkat dunia.
Read more

Wednesday, August 9, 2017

Sensasi Relaksasi Vanaprastha Gedong Songo Park

Pergi ke Vanaprastha Gedong Songo Park yang belum saya ketahui, awalnya sedikit mengutuk suami. Diajaknya saya ikut acara kantornya, di sebuah taman di Gedong Songo.  Semua orang tahu bagaimana lelahnya mengitari kompleks Gedong Songo, hal yang telah lama saya hindari karena saya kurang berolah raga. Kali ini suamilah yang memiliki gagasan untuk membuat acara di atas sana selama dua hari. Huff...

Memang tanjakannya bukan main bagi saya, meski sebenarnya hanya separuh jalan. Masuk ke lokasi Kompleks Candi Gedong Songo, kami serombongan berjalan bersama. Lama-kelamaan, kami berpencar dan berjarak,  karena tak semuanya kuat menanjak dengan kecepatan yang sama.

Hampir sampai di lokasi, jantung berdegup kencang, nafas ngos-ngosan, tubuh menjadi panas dan berkeringat, padahal kabut udara malam yang dingin mulai berdatangan. Diam-diam saya bertekad, tak ingin lagi mengulangi perjalanan ini. Tentu, sambil sedikit mengomel pada suami yang seolah ingin memberi sebuah kejutan.

[caption id="attachment_1653" align="aligncenter" width="1536"] Sisi lain Vanaprastha Gedong Songo Park, indah bukan? (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Dan, yah... Setelah melewati tulisan Vanaprastha Gedong Songo Park, sampailah saya pada komplek rumah kayu yang besar dan kokoh. Rumah-rumah itu seperti berada di dalam pelukan pohon-pohon pinus. Amboi, indahnya... Kami akan menginap semalam di sana, dan saya langsung merasakan sensasi relaksasinya. Alam yang begitu mempesoana. Di sini suami senyum-senyum simpul memperhatikan ekspresi saya. Dia tahu, kali ini pasti menang lagi. Hahaha... Tapi saya tidak peduli.

Saat suami sibuk mengurusi acara kantornya, saya berada di sebuah kamar namun erus saja sibuk dengan rasa penasaran. Tak disangka, ternyata kawasan Gedong Songo memiliki keunggulan tingkat dunia. Menurut situs Visit Central Java, kawasan Gunung Ungaran memang  memiliki bioenergi terbaik di Asia. Energi alam yang bagus, positif dan bersih, terdapat di sini.

[caption id="attachment_1654" align="aligncenter" width="640"] Gambar dalam rumah kayu di lokasi Vanaprastha Gedong Songo Park. (foro: Sandra Palupi)[/caption]

Bionergi yang bersih sangat penting bagi kebugaran tubuh. Dengan menghirup energi positif alam itu, tubuh dan pikiran akan berasa segar. Energi dalam tubuh dan pikiran yang terbarukan oleh energi positif alam, akan membuat kita mampu memunculkan gagasan-gagasan segar. Dan dengan begitu, kita akan dapat menciptakan kemajuan dan meningkatkan kualitas hidup.

Inilah mengapa Perum Perhutani mendirikan rumah kayu jati di sini. Tak hanya menyuguhkan wisata sejarah, namun juga wahana wisata rumah kayu. Bionergi terbaik inilah yang hendak disuguhkan bagi para wisatawan. Pas juga untuk para wisatawan yang senang melakukan relaksasi, yoga, reiki, meditasi, dan sebagainya. Saya tambahkan pula, ini pas pula untuk penulis mereguk inspirasi. Hehehe...

Di Vanaprastha Gedong Songo Park, berdiri tiga rumah heritage. Ternyata, rumah kayu jati yang sedang saya singgahi ini, telah berumur lebih dari satu abad. Pada jaman Belanda, bangunan ini yang dahulu disebut jati bedrig, digunakan sebagai rumah pejabat perusahaan kehutanan yang mengelola jati di Jawa. Kemudian dari lokasi-lokasi hutan Jati di Jawa, Perum Perhutani memindahkan tiga unit ke kompleks Candi Gedong Songo untuk keperluan kepariwisataan. Wow, bukan main.

[caption id="attachment_1655" align="alignnone" width="1536"] Siapa yang mampu menolak pemandangan indah ini. Rumah kayu jati berumur lebih seabad di Vanaprastha Gedong Songo Park. (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Persis seperti yang saya temukan di situs Perhutani, selain fasilitas villa atau rumah kayu, dalam Vanaprastha Gedong Songo Park, juga ada taman pinus, taman bermain anak, area camping, dan kursi tempat bercengkerama sembari menyesap dinginnya udara yang tertiup angin. Dibangun pula gazebo yang dapat dimanfaatkan untuk yoga dan meditasi, cocok sekali bagi yang menginginkan ketenteraman.

Baiklah, saya mengaku kalah. Diam-diam, saya ingin merasakan sensasi relaksasi lagi, di Vanaprastha Gedong Songo Park!
Read more

Saturday, August 5, 2017

Kampung Dolanan Pandes, Bakal Dekatkan Anak pada Mainan Tradisional

Kampung Dolanan Pandes cukup membikin penasaran untuk tujuan wisata. Saya kagum dengan geliat penduduk dusun yang banyak disiarkan di televisi itu. Beberapa dari mereka secara turun temurun membuat mainan tradisional anak, bahkan mempertahankannya.

Dorongan terbesar berasal dari keresahan saya pada mainan tradisional masa kanak-kanak yang tergusur oleh mainan modern. Saya ingin kedekatan anak pada nuansa masa, ketika anak-anak punya semangat karya membuat mainannya sendiri.

Menurut Putri Gita lewat Warga Jogja, Kampung Dolanan ini muncul dari inisiatif sejumlah warga di Dusun Pandes setelah tragedi Gempa Jogja 2006. Salah satu tujuannya adalah membantu pemulihan trauma anak-anak akibat gempa. Wargapun menghidupkan kembali Kampung Dolanan yang di masa lalu memang menjadi pusat pembuatan dolanan anak.

Ketika sampai di salah satu rumah, kami melihat banyaknya bentuk dolanan anak yang berada di teras. Di sana saya biarkan anak-anak bertanya dan menikmati bentuk-bentuk dolanan yang tersedia. Ada seorang Bapak keturunan Mbah Atemo yang sedang melakukan pewarnaan sederhana pada wayang kertas buatannya.  Ah, ada angkrek, wayang, dan payung kertas yang masing-masing hanya seharga dua ribu lima ratus rupiah.

[caption id="attachment_1547" align="aligncenter" width="477"] Dolanan anak; kepat dan wayang yang terbuat dari bambu dan kertas dengan pewarna sederhana. (foto:Sandra Palupi)[/caption]

Berdasar keterangan dari kediaman Mbah Atemo, kami menuju ke rumah Mbah Joyo. Beliau sudah sepuh tetapi produktif dalam karya. Di rumah sederhananya, anak-anak sangat girang melihat keunikan kitiran warna-warni, othok-othok, kandangan, klontongan, juga kipat kertas. Betapa hebat hasil kriya simbah-simbah yang usianya sudah lebih dari 80 tahun ini.

[caption id="attachment_1548" align="aligncenter" width="406"] Menatap hasil karya Mbah Joyo, Simbah yang usianya lebih dari 80 tahun ini. (foto: Sandra Palupi)[/caption]

Oh ya, anak-anak muda yang hilir mudik sambil membawa kamera dan video rekam nampaknya pemandangan biasa bagi penduduk Dusun Pandes. Banyak mahasiswa yang melakukan penelitian, juga wartawan yang meliput Kampung Dolanan yang unik ini.

Bimo, salah satu pengelola dari Komunitas Pojok Budaya, bicara dalam Atmajaya News; visi dari komunitas ini adalah ingin membantu dalam perwujudan masyarakat yang mandiri, berbudaya, religius, dan peduli lingkungan sekitar. Ada juga kegiatan Kelompok Bermain Among Siwi, pelestarian budaya, dan paket outbond untuk para pengunjung.

Pak Wahyudi, perintis Kampung Dolanan Anak ini mengungkapkan bahwa nilai edukasi dalam sebuah permainan ini ada yang disebut multiple intelligent  atau kecerdasan majemuk, yang terdiri atas kecerdasan irama, kinestetis dan rasa, atau dalam Bahasa Jawanya wiromo, wiroso dan wirogo.

Nah, apakah anda ragu berkunjung? Anak-anak Anda pastinya membutuhkan inspirasi ini.
Read more

Thursday, February 23, 2017

Kutu Buku Harus ke Sini!

Membaca buku adalah sebuah keasyikan tersendiri. Hobi yang satu ini tak sekadar memberikan wawasan yang luas tapi juga inspirasi. Tetapi, seorang kutu buku akan berbahagia jika ia bisa berkelana ke toko-toko buku independen yang berada di sejumlah negara di Eropa. Apalagi jika mereka bisa mendapatkan buku-buku idaman di toko-toko itu.

Traveltoday memilihkan sejumlah toko buku unik dan bersejarah di Eropa yang patut dikunjungi oleh para pecinta buku:

[caption id="attachment_1175" align="aligncenter" width="602"] Ketidakteraturan yang menyenangkan penggila buku di Acqua Alta, Venezia. Foto: www.venice-italy-veneto.com[/caption]

  1. Aqua Alta di Venezia, Italia


Di Acqua Alta kita akan berdecak kagum. Perahu, gondola, dan kano berfungsi sebagai rak buku. Buku-buku baru dan bekas ada di sana.

Jika kita terlalu mencintai keteraturan, toko buku ini bukan tempat yang cocok untuk dikunjungi. Kesannya memang berantakan, tetapi bagi banyak orang hal itu merupakan ketidakteraturan yang mengasyikkan. Penggila buku adalah petualang, bukan?

 

[caption id="attachment_1176" align="aligncenter" width="597"] Seorang pecinta buku tengah mengamati dan memilih kloekst buku di Shakespeare and Co, Paris. Foto: img02.deviantart.net[/caption]

  1. Shakespeare and Co di Paris, Perancis


Shakespeare and Co menjadi salah satu tujuan wisata budaya bagi banyak orang yang berkungjung ke Paris. Toko ini tidak hanya menarik minta mereka yang gila baca tetapi juga para turis yang ingin jejaknya tercetak di kota yang menjadi salah satu destinasi wisata paling tersohor di Eropa ini.

Toko buku kecil ini letaknya di sisi Sungai Seine, berseberangan dengan Notre Dame dan didirikan oleh orang Amerika pecinta literasi bernama George Whitman pada tahun 1951.

Sejak awal dibuka, Shakespeare and Co telah menjadi tempat bertemunya para penulis terkemuka seperti James Baldwin, Anaïs Nin, Julio Cortázar, Lawrence Durrell, Henry Miller, Richard Wright, Allen Ginsberg, William Burroughs, and William Saroyon. Begitulah yang terceritakan dalam website resmi mereka.

 

[caption id="attachment_1177" align="aligncenter" width="626"] Word on the Water di London menjadi daya pikat baru bagi penggila buku. Foto: www.travelaway.me[/caption]

3. Word on the Water, di tepi Kanal London, Inggris

Paddy Screech mengawali kisah ini di tahun 2011. Setelah ia meninggalkan pekerjaan lamanya, toko buku terapung ini mulai mewarnai area di sekitar Kanal London’s Regent yang berada tak jauh dari Stasiun Paddington.

Perahu ini mungkin Nampak kecil sebagai sebuah toko buku dengan ribuan koleksi. Tetapi, ini tak sekadar toko melainkan menjadi tempat tinggal Screech.

Seperti dilansir dari theguardian.com, Screech mengatakan, “Ini merupakan lambing independensi. Toko buku adalah budaya, dan toko buku independen tidak kepayahan karena banyak orang yang tidak menginginkannya – tentu saja karena mad property market ini.”

 

[caption id="attachment_1178" align="aligncenter" width="596"] Selalu ada cara mengenalkan sastra dan budaya. Cara Tell A Story ini sungguh puny daya. Foto: www.inhabitat.com[/caption]

  1. Tell a Story di Lisbon, Portugal


Konsep Tell A Story ini ringkas dan efektif. Sebuah toko buku di mobil van. Karena itulah ia akan bergerak dan berhenti di sejumlah lokasi yang menjadi perhatian para wisatawan di Lisbon. Tentu saja hal itu bukan tanpa tujuan lho. Utamanya, mereka ingin mengenalkan sastra Portugis dalam bahasa Inggris kepada para turis.

Kadangkala tim Tell A Story juga berkelana ke penjuru Portugal. Tak hanya buku yang mereka jual. Ada pula pulpen dan kartu pos. Harapannya, banyak orang yang akan menuliskan kisah mereka di kartu pos dan mengirimkannya kepada sahabat, keluarga, dan siapapun juga. Just tell a story…..

 

[caption id="attachment_1179" align="aligncenter" width="594"] Mabuk yang tak membuat ambruk. Jadilah Atlantis Books. Foto: Hayley Igarashi, www.goodreads.com[/caption]

  1. Atlantis Books di Santorini, Yunani


Jangan pandang pemabuk dengan sebelah mata! Ini benar. Para pemabuk seringkali menghadirkan ide-ide gila bahkan brilian. Pergilah ke Atlantis Books di Santorini, Yunani.

Seperti yang dikisahkan theguardian.com ada dua orang mahasiswa Oxford yang sedang berlibur di Santorini pada 2004 lalu. Mereka mabuk lalu memutuskan untuk membuka sebuah toko buku yang berhadapan langsung dengan lautan lepas.

Setelah keduanya lulus kuliah niatan itu diwujudkan dengan sejumlah kegilaan lain ala pemabuk. Salah satunya ada tertulis: Anda Bisa ‘Menyewa Seekor Kucing’ Selagi Membaca. Hahaha.

Bagaimana, kutu buku? Apakah wangi kertas dari halaman-halaman buku di toko-toko buku independen yang kami referensikan menggugah kegilaanmu? Semoga.

Johanes Indra | traveltoday - dari berbagai sumber
Read more

Tuesday, January 10, 2017

Negeri-negeri Dongeng di Bumi

1. Pegunungan berwarna-warni

[caption id="attachment_970" align="aligncenter" width="736"] Vinicunca, foto: Pinterest[/caption]

Biasanya pegunungan berwarna hijau. Berbeda di Kota Cusco, Peru terdapat pegunungan yang berwarna-warni seperti pelangi. Warnanya merah, kuning, biru, putih dan hijau serta tidak ada secuil pohon pun. Inilah pegunungan Vinicunca!

2. Gua yang menyala

[caption id="attachment_971" align="aligncenter" width="800"] Waitomo Glowworm, foto: bookme[/caption]

Gua itu gelap dan lembab. Apa jadinya jika di dalam gua, justru ada cahaya yang menyala di langit-langitnya. Inilah Negeri Dongeng di Selandia Baru tepatnya di North Island, Waitomo Glowworm!

3. Danau pink

[caption id="attachment_972" align="aligncenter" width="790"] lake hillier, foto: amuzing planet[/caption]

Danau warnanya pink, sungguhan ada di dunia. Inilah Danau Hillier di Kepulauan Recherche, Australia Barat. Banyak orang bilang, danau ini sudah seperti milkshake stroberi saja!

4. Air terjun api

[caption id="attachment_973" align="aligncenter" width="740"] Horsetail fall, foto: Placestoseeinyourlifetime[/caption]

Yosemite National Park di California, AS memiliki fenomena yang disebut seperti Negeri Dongeng. Fenomena yang berupa air terjun menyala, seperti api. Horsetail Firefall, inilah air terjun api!

5. Api biru

[caption id="attachment_974" align="aligncenter" width="640"] Blue Fire, Kawah Ijen, foto: kompas[/caption]

Negeri Dongeng di Indonesia, memangnya ada? Memangnya ada fenomena alam yang unik di Indonesia yang sulit ditemukan di negara lain? Jawabannya, Indonesia memang punya banyak fenomena alam yang unik. Salah satunya yang cuma ada dua di dunia (satu lagi di Islandia) adalah fenomena blue fire alias api biru!

sumber: detik.com

 
Read more

Sunday, December 11, 2016

10 Tahun Lagi, Impian Liburan ke Bulan Bisa Terwujud

DALAM satu dekade mendatang, wisatawan dapat memikirkan rencana berlibur ke Bulan daripada ke ujung dunia di Moskow. Kini, perusahaan swasta yang ingin mengkhususkan diri dalam perjalanan bulan, Moon Express, mengumumkan baha impian banyak warga bumi akan jadi kenyataan.

Perusahaan swasta yang dibuat dengan keputusan pemerintah Amerika Serikat telah diberi lampu hijau untuk mendarat di bulan oleh Federal Aviation Administration. Dilansir dari Lonelyplanet, Kamis (8/12/2016), Moon Express pun menjadi perencana perjalanan pertama ke bulan per 2026.

(foto: John Raoux-AP)


Pendiri dan ketua perusahaan tersebut, Naveen Jain, mengatakan bahwa tiket perjalanan akan dibandrol sekira USD10.000 atau Rp130.000.000. Langit tidak menjadi batasan untuk Moon Express, melainkan launchpad. Terobosan ini adalah lompatan raksasa lain untuk kemanusiaan, katanya.

"Perjalanan ruang angkasa kami adalah langkah ke depan untuk memastikan kelangsungan hidup kita dan menciptakan masa depan yang tak terbatas untuk anak-anak kita. Dalam waktu dekat, kita bisa membayangkan bagaimana logam dan batuan bulan dapat dikirim ke bumi," tuturnya.

Rekan penemu dan chief executive Moon Express Bob Richards mengatakan, persetujuan misi The Moon Express 2017 ini penting untuk mencari pengetahuan dan sumber daya baru untuk memperluas lingkup ekonomi bumi untuk kepentingan seluruh umat manusia.

sumber: okezone.com
Read more