Showing posts with label Letter From Ceo. Show all posts
Showing posts with label Letter From Ceo. Show all posts

Wednesday, August 9, 2017

Mengelilingi Wina dalam Sehari, Dari Stephansdom Sampai Istana Belvedere

Hujan salju menyambut kedatangan saya di Kota Wina. Padahal saya tiba di pengujung bulan April. Suhu udara yang minus 2 derajat celcius cukup menusuk tulang. Sementara negara-negara di sekitarnya sudah masuk musim semi.

Ibukota Negara Austria ini memang sedikit berbeda. Karena letaknya di dataran tinggi dan dikelilingi pegunungan. Sehingga salju turun di bulan April itu menjadi hal yang biasa buat penduduk kota ini.

Kota yang beberapa kali menyandang "kota dengan kualitas hidup terbaik di dunia" ini sangat menarik untuk ditelusuri. Gedung-gedung peninggalan kekaisaran Habsburg yang megah dan cantik serta katedral-katedral yang indah memenuhi kota ini. Banyak pilihan destinasi wisata yang bisa dikunjungi. Namun sayang saya hanya punya waktu satu hari.

Maka saya mencoba memetakan destinasi wisata yang bisa saya kunjungi dalam satu hari. Setelah saya pelajari. Lokasi wisata yang satu dengan lainnya berdekatan. Paling jauh jaraknya hanya 30 menit berjalan kaki.

Saya melihat trotoar yang lebar dan nyaman. Saya pun memutuskan untuk mengikuti kebiasaan warga Kota Wina yang gemar berjalan kaki. Dengan berjalan kaki, saya bisa lebih berinteraksi dengan warga kota dan puas menikmati pemandangan kota yang indah ini.

Katedral St. Stephen (Stephansdom)

[caption id="attachment_1666" align="aligncenter" width="640"] Stephansdom (foto: pingallery.deviantart.com)[/caption]

Jam 9 pagi. Saya pun siap memulai mengeksplorasi kota dengan segudang predikat ini. Segudang dalam makna sebenarnya. Wina identik dengan kota budaya, kota musik, kota wisata, kota terbaik untuk tinggal dan banyak gelar lainnya.Setelah melihat peta dan membaca banyak literatur, saya memutuskan untuk memulai perjalanan saya dari Katedral St. Stephen. Jaraknya cuma 20 menit dengan berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap.

Katedral ini dibangun sangat lama yaitu 65 tahun. Mulai dari tahun 1368 dan selesai tahun 1433. Puncak menaranya yang sangat cantik dengan bergaya gothik merupakan puncak gedung tertinggi pada masa itu. Dindingnya dipenuhi oleh ukiran-ukiran yang sangat indah.

Katedral ini menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi di kota Wina. Dan tentu saja sangat instagramable untuk berfoto. Maka wajar saja, walaupun di tengah hujan salju, ratusan turis berpose dengan berbagai gaya di katedral ini. Sayang, ketika saya datang sedang ada renovasi sehingga tidak bisa masuk ke dalam.

Kaerntner Strasse


[caption id="attachment_1675" align="aligncenter" width="640"] Kaerntner Strasse (foto: cityscouter.com)[/caption]

Dengan berbekal google map, saya melanjutkan perjalanan menuju tempat kedua yaitu Istana Hofburg. Untuk menuju kesana saya melewati Kaerntner Strasse, pusat perbelanjaan dengan jalan terbentang dari alun-alun Stephenplatz yang berada di depan Katedral St. Stephen menuju Heldenplatz, lapangan luar Istana Hofburg yang dibangun tahun 1820.

Di sisi kiri kanan jalan dari Strphenplatz menuju Heldenplatz terdapat banyak butik ternama mulai dari kelas menengah sampai butik-butik brand nomor satu. Banyak juga terdapat toko suvenir dan restoran untuk mengisi perut. Uniknya semua butik, toko, dan restoran tersebut berada di dalam gedung-gedung tua dari abad pertengahan yang masih sangat terjaga keasliannya. Di tengah-tengah terdapat patung-patung perjuangan tentara Austria yang juga menjadi lokasi berfoto para turis. Sangat menarik.

Kaerntner Strasse menjadi salah satu tempat wajib buat turis yang suka belanja karena dipenuhi beragam toko sampai ke dalam lorong-lorongnya yang hanya bisa buat pejalan kaki. Juga menjadi tempat yang asyik buat bersantai menikmati kopi sambil memperhatikan orang yang berlalu lalang di jalanan berbatu ditengah gedung-gedung abad yang megah dan cantik.

Istana Hofburg


[caption id="attachment_1672" align="aligncenter" width="640"] Hofburg Palace (foro: mariatheresa.com)[/caption]

Sekarang saya tiba di Hedenplatz. Alun-alun terbuka yang luas dan setengah melingkar. Di belakang alun-alun tampak megah berdiri Istana Hofburg.

Istana ini merupakan tempat tinggal Raja Kekaisaran Hofburg yang menguasai Austro Hungaria dan merupakan pusat ekonomi eropa tengah pada masa itu. Dibangun sejak abad ke-13 dan selalu bertambah luas sampai akhir abad ke-19.

Istana Hofburg saat ini meliputi apartemen Presiden Austria, bangunan tempat tinggal Kanselir Federal Austria dan juga beberapa museum. Ada museum sejarah dan seni Kunsthistorisches Mmuseum, Ephesos Museum yang menyimpan banyak benda seni dari Asia, Naturhistorisches Museum, Museum Etnologi (fur Voljerkunde), dan juga Heeresgeschichtliches Museum atau museum perang.

Begitu banyak yang dapat dilihat di tempat ini sehingga perlu waktu yang lama untuk mengelilinginya. Di beberapa aula di museum ini juga sering ditampilkan pertunjukan seni dan orkestra yang ditampilkan secara berkala. Banyak pemuda berpakaian adat Austria menawarkan tiket nonton acara-acara tersebut.

Volksgarten


[caption id="attachment_1673" align="aligncenter" width="640"] Volksgarten (foto: en.wikipedia.org)[/caption]

Setelah puas menikmati Hofburg Palace saya berjalan menuju Volksgarten. Taman kota yang sangat luas ini merupakan bagian luar dari Hofburg Palace. Volksgarten dibangun pada tahun 1821 dan dibuka untuk umum pada tahun 1823. Di bagian tengah taman ini terdapat Theseus temple yang merupakan replika dari temple of Haphaestus di Athena, Yunani.

Selain itu di taman kota ini banyak terdapat monumen dan juga air mancur Triton & Nymph Fountain dan Volksgarten Fountain. Tempat yang dipenuhi taman bunga mawar ini sangat cocok untuk melepas lelah setelah mengelilingi Hofburg Palace.

Wiener Musikverein


[caption id="attachment_1667" align="aligncenter" width="640"] Weiner Musikverein (foto: austria-forum.org)[/caption]

Selanjutnya saya berbelok ke kiri dan menyusuri trotoar yang sangat lebar dengan banyak kedai restoran. Di sebelah kiri saya terdapat sejumlah gedung konser. Wajar saja kalau kota ini sejak dulu terkenal sebagai kota musik. Banyak musisi besar dunia  yang lahir dan besar serta memulai kariernya di kota ini. Seperti Mozart, Bach, dan banyak lagi lainnya.

Di ujung jalan ada satu bangunan berwarna-warni yang sangat mencolok dan tampak indah. Ternyata gedung ini adalah The Wiener Musikverein. Rumah tempat bernaung dan tampilnya Vienna Philharmonic Orchestra yang sangat terkenal. Gedung ini dibuka sejak tahun 1870 dan mampu menampung 2.854 orang penonton. Karena belum buka saya hanya berfoto di depannya saja.

Karlskirche Vienna (St. Charles Church)


[caption id="attachment_1678" align="aligncenter" width="640"] Karlskirche (foto: komoot.com)[/caption]

Selanjutnya saya menyeberang jalan dan melihat satu bangunan yang mempunyai banyak kubah. Gedung ini mengingatkan saya akan Blue Mosque di Istanbul Turki. Bentuk kubah dan tower-tower di atasnya hampir sama. Saya tidak tahu apakah ini kebetulan atau saling mempengaruhi.

Gereja Katolik Roma bergaya Baroque Rococo itu dibangun tahun 1716 dan selesai tahun 1737. Di depan gedung terdapat air mancur yang sangat besar dan juga taman bunga tulip berwarna warni yang sedang mekar. Saya tidak membuang waktu untuk berfoto dan mengambil beberapa foto gedung indah ini.

Schonbrunn Palace


[caption id="attachment_1674" align="aligncenter" width="640"] Schonbrunn Palace (foto: trover.com)[/caption]

Dari St. Charles Church saya berbelok ke kanan dan berjalan kaki lumayan jauh. Setelah sekitar 30 menit, saya tiba di landmark utama kota Wina, yaitu Schonbrunn Palace. Istana Schonbrunn ini merupakan bangunan kerajaan Austria yang dibangun pada abad ke-16 dengan nama Katterburg.

Istana ini dulunya merupakan istana resmi kerajaan pada musim panas. Sedangkan jika musim dingin keluarga kerajaan akan mengungsi ke Hofburg Palace. Nama Katterburg kemudian diganti dengan Schonbrunn yang berarti beautiful spring. Bangunan istana ini memiliki 1.441 ruangan. Sangat luas.

Di sekeliling bangunan terdiri dari banyak taman bunga, padang rumput yang menghijau serta air mancur, beberapa danau buatan juga terdapat maze atau labirin. Taman-taman tersebut diberi nama Great Partere, Tieegarten, Orangerie, Gloriete dan Palm House. Komplek Istana yang indah ini sejak tahun 1996 masuk ke dalam Unesco world heritage site.

Belvedere


[caption id="attachment_1668" align="aligncenter" width="640"] Belvedere Palace (foto: sl.wikipedia.org)[/caption]

Dari Schonbrunn Palace saya menuju satu istana yang sayang kalau dilewatkan, yaitu Belvedere. Istana ini dibangun pada abad ke-17 di Baroque Park. Komplek istana ini terdiri dari dua bangunan yaitu Upper Belvedere dan Lower Belvedere. Kedua istana ini dipakai oleh Pangeran Eugene Savoy sebagai kediaman musim panas. Karena keindahan bangunanya, Istana Belvedere menjadi ikon kota Wina yang gambarnya menghiasi kartu pos dan buku-buku wisata di semua toko suvenir di kota ini.

Sayangnya karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, museum Belvedere sudah tutup.

Hujan salju semakin deras. Udara dingin semakin menusuk. Saya pun harus berlari-larian mencari cafe dengan penghangat untuk mengisi perut sambil memandangi salju yang mulai berjatuhan menutupi warna-warni bunga tulip di taman Istana Belvedere.
Read more

Wednesday, May 31, 2017

Romantisme Kota Luzern

Selama ini, orang selalu menilai Paris dan Venezia sebagai kota romantis buat pasangan yang sedang berlibur. Kedua kota itu sudah sangat terkenal di seluruh dunia. Sehingga di setiap tempat kita akan melihat banyak pasangan yang menghabiskan waktu berlibur bersama. Bagaimana dengan Luzern?
Setelah mengunjungi Paris dan Venesia, saya juga mengunjungi Luzern yang ada di Swiss. Ini kali kedua saya mengunjungi kota ini. Pertama kali tahun 2015 dan hanya satu hari. Saat ini saya menyediakan waktu dua hari.


Luzern selama ini dikenal sebagai destinasi wisata persinggahan traveler yang ingin ke Mount Titlis. Sehingga wisatawan yang datang ke kota ini kebanyakan hanya menginap semalam kemudian langsung pergi lagi ke destinasi wisata lainnya.


Namun dengan waktu yang lebih banyak, saya menjelajahi kota ini baik berjalan kaki dan naik tram. Kebetulan hotel tempat saya menginap berada di pinggir danau tak jauh dari pusat kota.




[caption id="attachment_1491" align="aligncenter" width="640"] foto: scherminator.com[/caption]

Saya keluar jam 9 pagi. Menyusuri pinggir danau yang berair jernih dan berwarna biru kehijauan. Di pinggir terdapat gedung-gedung yang cantik dan taman-taman bunga warna warni. Kebetulan saat ini musim semi. Sementara di ujung sana terdapat gunung-gunung yang masih tertutup salju. Sungguh indah.

Yang menarik perhatian saya justru di setiap kursi taman banyak pasangan baik tua dan muda yang sedang berpelukan menikmati keindahan kota ini. Ada juga yang membawa anaknya dan membiarkan mereka bermain dan berlarian di taman.

Di sepanjang trotoar juga lebih banyak pasangan yang berjalan bersama dengan pelan sambil bergandengan tangan. Tak ada yang terburu-buru di kota ini. Semua bergerak pelan dan santai sambil tak lepas mengabadikan keindahan kota dengan kamera poket mereka.

Di restoran-restoran yang berjejer baik yang menjadi satu dengan hotel maupun yang berdiri sendiri, juga banyak terdapat pasangan tua dan muda. Ada yang menikmati makanannya dan sebagian lagi membaca buku. Sungguh senang melihat mereka. Jauh dari hingar bingar kota Paris atau padatnya wisatawan yang berjalan kaki atau naik gondola mengelingi Venesia.

Menjelang siang, kota ini makin diramaikan oleh turis yang datang dari seluruh dunia. Namun semua tampak berjalan lebih santai. Terbawa oleh suasana kota. Kebanyakan mereka keluar hotel menuju stasiun untuk ke Mount Titlis. Sebagian kecil saja yang justru berjalan meluangkan waktu untuk menikmati kota indah ini.
Sore dan malam hari




[caption id="attachment_1490" align="aligncenter" width="640"] foto: desalpes-luzern.ch[/caption]

Dan datanglah sore hari. Ketika usai jam kerja dan matahari sudah mulai turun. Maka kita akan melihat banyak orang yang selesai kerja menghabiskan waktu dengan duduk-duduk sambil ngobrol bersama teman-temannya. Ada yang langsung duduk di rumput-rumput taman yang menghijau. Atau memilih di kursi-kursi yang tersedia di sepanjang tepi danau Lucerne. Sebagian memenuhi kursi-kursi di restoran dan cafe yang tersedia. Tampak kota ini menjadi tempat bersantai semua penduduk dan turis yang ada di sini.

Menjelang malam maka mereka akan beranjak pindah ke bar-bar dan restoran yang baru buka. Semua bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Ada beberapa jalan kecil yang tidak boleh dilewati oleh kendaraan dipenuhi oleh bar dan cafe. Tempat-tempat tersebut menyediakan kursi sampai keluar dipinggir jalan. Juga bar-bar terbuka yang pengunjungnya minum sambil berdiri memenuhi jalan yang ada. Yang berpasangan memenuhi kursi-kursi yang tersedia.

Suasana Kota Luzern membuat pasangan yang datang kesini bersikap romantis terhadap pasangannya, tampa mereka rencanakan. Terbawa oleh suasana kota dan gaya hidup penghuninya. (zh)

Read more

Tuesday, May 30, 2017

Lost in Venice, Happy in Venezia

Venice atau lebih dikenal dengan kata Venezia merupakan magnet luar biasa bagi turis mancanegara yang mengunjungi Italia. Kota ini bersaing dengan Roma, Milan dan juga Pisa yang terkenal dengan menara miringnya.

Dalam perjalanan ke Eropa kali ini, Venezia langsung saya masukkan di daftar tujuan utama. Sudah lama sekali saya ingin mengunjungi kota ini. Dan dalam kesempatan liburan ke Venezia kali ini, saya ingin memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk mengeksplorasi kota eksotis ini. Kota yang sangat terkenal sebagai kota wisata yang berada di atas air dengan kanal-kanal indahnya.

Saya menginap di daerah Mestre Centro, di luar kota Venezia. Karena datang saat liburan Paskah yang di Eropa dirayakan sampai 3 hari. Jadi hotel di Venezia semua penuh dan kalaupun ada harganya melambung tinggi. Apa daya, harapan saya untuk menginap di hotel-hotel di pinggir kanal-kanal di kota Venezia tidak tercapai.

Namun ternyata dari Mestre Centro yang merupakan pusat perdagangan dan perkantoran penunjang kota Venezia tidaklah jauh. Cukup naik tram atau bus, dengan membayar setengah euro sekali jalan tujuan Venezia. Anda akan dibawa langsung menyeberang ke kota Venezia dengan menyeberangi jembatan yang sangat panjang. Dan turun di terminal utama kota Venezia.

Begitu turun dari tram, di depan saya terpampang kanal yang besar yang langsung terhubung dengan lautan luas. Di pinggiran kanal terdapat terminal boat-boat yang bisa membawa kita menyusuri kanal-kanal yang ada di Venezia. Cukup dengan membayar €22, maka kita akan dibawa menyusuri kanal-kanal yang indah tersebut. Namun tur menggunakan boat tidak setiap jam ada. Lebih banyak boat-boat yang menjadi taxy yang dapat mengantar kita ke tujuan ke seluruh kota Venezia.

Sedangkan untuk naik gondola yang sangat terkenal di Venezia. Satu gondola dibanderol €80 untuk siang hari dan €100 untuk malam hari. Maksimal diisi sebanyak 6 orang. Kalau mau diisi satu atau dua orang, harga tetap sama. Karena bayar per gondola. Kita akan dibawa menyusuri keindahan kanal-kanal di kota Venesia diatas gondola yang dihias dengan indah. Sungguh romantis jika hanya berdua bersama pasangan kita.
Berjalanlah di Venezia



[caption id="attachment_1488" align="aligncenter" width="640"] foto: chrystal-clear.com[/caption]

Namun dari awal saya ingin menyusuri kota Venezia dengan berjalan kaki. Karena naik gondola atau boat sudah terlalu mainstream dan banyak tempat yang tidak dapat dikunjungi. Kecuali kita mau turun naik berulang kali untuk mengunjungi tempat-tempat yang menarik tersebut. Saya membeli peta seharga €3 dan mulai berjalan dengan berpedoman pada peta yang saya miliki.

Dari terminal saya menyeberang jembatan ke arah stasiun utama kereta api di kota Venezia. Stasiun ini tampak megah dan sangat ramai. Di muka stasiun banyak orang duduk-duduk menikmati indahnya kanal sambil berfoto-foto. Saya terus berjalan ke kiri dan menemukan banyak bangunan-bangunan yang sangat menarik. Yang tidak dapat dilihat dari gondola atau boat.

Lorong-lorong kecil di antara gedung-gedung tua yang artistik dan berwarna-warni, tampak padat oleh penjual dan wisatawan yang berkunjung ke kota ini. Sepanjang lorong berjejer toko cenderamata, kafe, dan restoran yang dihias dengan cantik. Di tempat-tempat yang lapang, para musisi jalanan, pelukis, seniman artistik tampak menunjukkan kebolehannya. Banyak orang bergerombol menonton pertunjukan mereka.

Saya menemui banyak gereja dan kapel dari abad pertengahan yang dibangun dengan arsitektur yang indah. Beberapa gedung pertunjukan dan teater diisi dengan pameran pelukis-pelukis ternama. Seperti Da Vinci dan Monet. Banyak musium seni lukis dari pelukis-pelukis ternama Italia.


Regatta Bridge yang instagramable

Saya terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di Venezia sampai saya sendiri tidak tahu berada di mana. Saya tersesat di tengah kota indah. Saya memutuskan untuk terus berjalan menyusuri lorong-lorong kota ini. Karena jika anda tersesat dan tidak ada yang mencari berarti anda tidak hilang. Saya akan mencari jalan pulang jika saya ingin pulang.

Saya tidak sengaja sampai di Regatta Bridge. Jembatan yang di atasnya pusat pertokoan ini merupakan salah satu icon dari Venezia. Bentuk jembatan yang melengkung tinggi dengan undakan tangga yang lumayan banyak, menjadi tempat berfoto yang sangat instagramable. Baik foto di atasnya dengan latar belakang kanal dan gedung-gedung yang cantik. Maupun foto dari bawah dan jembatan ini menjadi latarnya.

Saking ramainya, orang harus antre untuk dapat berfoto di pinggir jembatan. Juga di spot-spot utama yang menjadikan jembatan ini sebagai latarnya. Saya menikmati jembatan yang tampak artistik dan fotonya banyak terdapat di semua toko souvenir di kota ini.
Piazza St Marco



[caption id="attachment_1487" align="aligncenter" width="640"] foto: portofelice.it[/caption]

Kemudian saya melanjutkan perjalanan mengikuti arus rombongan turis yang mengalir seperti air sungai. Setelah melewati beberapa lorong kecil dan besar yang penuh dengan lalu lalang wisatawan. Saya tiba di satu tempat yang sangat luas. Tempat ini ternyata adalah Piazza St Marco yang sangat terkenal. Piaza St Marco merupakan alun-alun kota Venezia. Tempat berkumpul dan menjadi tujuan utama semua wisatawan yang datang ke kota ini.

Alun-alun yang luasnya ribuan meter persegi ini, dikelilingi oleh gedung-gedung tua yang cantik. Di satu sisinya terdapat Basilica dengan arsitektur yang sangat indah. Di seberangnya terdapat Sorer Museum yang sangat luas, yang berisi banyak artefak dan peninggalan sejarah dari pendiri kota Venezia. Disampingnya ada museum yang berisi tentang sejarah umat manusia. Dengan membayar €20, kita bisa mengunjungi semua museum tersebut plus tiket masuk ke Basilica yang sangat indah dan kita bisa naik sampai lantai teratas melihat pemandangan Piazza St Marco dari ketinggian.

Di depan Basilica terdapat tower St Marco yang menjulang tinggi. Tower ini merupakan gedung tertinggi di kota Venezia. Tiket naik ke puncak dibanderol seharga €20. Antrean mengular untuk naik ke puncaknya. Dari puncak tower ini, kita bisa melihat kota Venezia secara 360 derajat. Gedung-gedung tua yang cantik, yang terhubung oleh ribuan lorong-lorong dan kanal-kanal yang dipenuhi gondola, benar-benar memikat mata.

Di seberang sana tampak lautan luas dan pulau-pulau kecil yang menjadi pelengkap keindahan kota Venezia. Wajar saja jika kota ini ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh Unesco dan ditiru oleh Macau dan Las Vegas sebagai destinasi wisata andalannya.

Setelah puas, saya melihat peta dan melanjutkan perjalanan kembali. Hari telah senja dan matahari sudah mulai turun. Saya memulai perjalanan pukul 9 pagi dan saat ini sudah jam 8 malam. Berbeda dengan Indonesia, di sini jam 9 baru mulai gelap. Tanpa terasa hampir 12 jam saya menyusuri kota ini. Puluhan kilometer saya jalani tak membuat lelah karena keindahan kota ini. Saya terus berjalan menyusuri sisi kanal dan akhirnya kembali tiba di Terminal utama Venezia dari sisi satunya.

Baru kali ini saya merasa gembira dan tidak panik dalam ketersesatan. Tidak ada yang hilang, yang ada malah saya mendapatkan banyak cerita yang sangat indah.

Salam dari Venezia. (zh)

Read more

Wednesday, May 17, 2017

Menguntit Copet di Museum-Museum Paris

Berhati-hatilah pada copet di Eropa! Ya, mau dibilang apa? Sudah menjadi rahasia umum kalau di beberapa kota besar di Eropa banyak sekali copetnya.

Terutama di kota-kota yang menjadi destinasi utama tujuan para traveller. Seperti Paris, Roma, Milan, Barcelona, Madrid, dan beberapa kota lainnya.
Maka, semua tour guide yang membawa grup wisatawan dari Indonesia ke kota-kota tersebut, selalu mengingatkan agar selalu berhati-hati membawa barang berharga. Menjaga tas dan dompet agar selalu berada di dekapan dan kantong depan.


Itupun saya ingatkan ke teman-teman perjalanan saya kali ini begitu kami tiba di Paris. Namun nasib naas menimpa 1 orang dari 8 orang yang berangkat bersama saya kali ini. Dan kejadian copet tersebut bukan di jalan raya, di toko-toko pusat perbelanjaan ataupun di tempat-tempat keramaian lainnya. Namun copet beraksi di dalam museum yang masuknya harus bayar. Berarti mereka pun berani mengeluarkan uang sebagai modal kerja.


Copet beraksi di museum

Awal kejadian ketika rombongan kami hendak menuju Museum D'Orsay Paris. Di museum ini dipamerkan lukisan-lukisan ternama dunia. Seperti lukisan karya Monet, Van Gogh, Gauguain, Da Vinci, dan banyak lagi.


Sebelumnya kami hendak menuju museum Louvre, tempat lukisan Monalisa berada. Tapi karena ini hari selasa, Louvre tutup. Akhirnya kami menuju D'Orsay. Rombongan kami berjumlah 10 orang dengan 1 orang bayi.


Ketika kami sedang antre di pintu masuk yang sangat panjang dan mengular, seorang teman saya sibuk dengan bayinya yang sedang menangis. Karena ia menggendong bayinya di depan, tasnya diselempangkan ke belakang. Saat akan memindahkan tasnya kembali ke depan, kondisi tas sudah terbuka. Sial! Dompet yang berisi sejumlah uang euro, kartu kredit, dan atm hilang.


Kami segera lapor ke security. Terus terang mereka agak kurang tanggap dan tidak terlalu peduli. Mungkin karena sudah sering terjadi dan itu merasa bukan tanggung jawab mereka.


Akhirnya kita datang ke pos polisi terdekat dan membuat laporan serta menjelaskan kronologisnya. Polisi menerima laporan kami dan memberi surat keterangan kecopetan. Beruntung pakai Travel Insurance, sehingga nanti saat pulang bisa diklaim dan kemungkinan besar akan diganti.


Gerak-gerik copet bisa dicermati

Sejak itu kami jadi lebih berhati-hati dan lebih waspada. Ketika sampai di dalam kami memperhatikan gerak-gerik semua pengunjung yang mencurigakan.


Sebenarnya kalau kita teliti, gerak-gerik mereka bisa kita tandai. Mereka rata-rata berkomplot yang terdiri dari dua orang atau lebih. Baik berpasangan maupun grup lelaki atau perempuan. Pakaian mereka perlente dan tidak bisa dibedakan dengan pengunjung lainnya. Cuma perhatikan saja matanya. Mereka tidak fokus sama apa yang dipamerkan di museum tapi justru fokus dengan pengunjung yang datang.


Mereka mengincar orang-orang yang lengah. Orang yang sibuk dengan barang bawaannya yang banyak atau terlalu asyik dan fokus melihat pameran namun lupa dengan barang sendiri. Yang teledor menaruh tas bawaan sembarangan. Yang tasnya gampang dibuka dan ditaruh di belakang. Atau cowok yang kantongnya sempit dan dompetnya gampang ditarik.


Saya memperhatikan gerak-gerik mereka ketika di Museum D'Orsay hari itu dan ketika mengunjungi Museum Louvre keesokan harinya. Hal ini saya lakukan dan saya pelajari dari penjaga museum yang mengingatkan saya untuk menaruh tas ransel saya di depan. Karena dia tau saya sedang diincar pencopet. Begitu juga seorang ibu yang sedang sangat fokus dengan lukisan Monet dan Van Gogh yang sedang dipamerkan.


Karena rasa ingin tahu, saya ajak dia ngobrol sejenak dan dia memberi tau ciri-ciri pencopet seperti tersebut. Ketika dia mengingatkan saya, pencopet tersebut bersama pasangannya seorang wanita cantik bergegas kabur. Dari awal saya kira mereka sangat asyik berpacaran. Mereka beberapa kali berciuman dan tampak sangat mesra. Saya pikir mereka lupa, kalau tempat ini museum. Ternyata itu salah satu trik mereka untuk mengalihkan perhatian calon korbannya.


Ternyata copet sekarang sudah makin pintar beraksi. Banyak cara yang mereka lakukan ketika saya jalan-jalan di Champ De Ellyse, jalan utama pusat perbelanjaan di Paris. Saat menunggu teman saya berbelanja. Saya juga melihat tiga orang pria dengan tampilan yang keren sambil mengobrol sok asyik, namun matanya fokus memperhatikan semua orang yang lewat.


Kemudian mereka menemukan mangsa, seorang ibu-ibu yang sedang sibuk dengan anak lelakinya yang digandeng dan tampak rewel. Satu orang langsung mengajak ibu tersebut ngobrol dan bertanya macam-macam. Yang dua orang berjalan mengiringi mereka di belakang tanpa ibu tersebut sadari. Sembari mata mereka fokus ke tas ibu yang menggantung di samping. Kebetulan jalanan sedang agak ramai. Ketika mereka makin mendekat, teman saya datang dan saya harus pergi. Saya hanya dapat berdoa semoga ibu tersebut tidak menjadi korban selanjutnya.


Tak hanya di Paris

Aksi pencopet tak hanya di Paris. Ketika tahun lalu bersama teman di Roma, ada tiga cewek cantik usia 20-an, dengan pakaian seksi dan tampak high class, sambil jalan ngobrol sangat ramai. Dan ketika berpapasan dengan kami, mereka memepet Bapak yang berada di depan saya yang terpesona akan kecantikan dan body mereka. Kebetulan saya berada di belakang Bapak tersebut. Ketika mereka ingin beraksi, saya langsung teriak dan ingatkan si Bapak. Bapak yang awalnya terpesona langsung sadar dan pegang dompet di kantong belakangnya. Cewek-cewek tersebut langsung melihat saya dan pergi dengan muka asam.


Lain lagi cerita di Barcelona. Teman saya benar-benar kehilangan. Saat tiba di stasiun kereta dari Madrid. Dalam kondisi lapar, salah satu ibu rombongan kami bersama ada dua anaknya, sibuk cari makan. Dan baru sadar tasnya yang berisi barang-barang berharga hilang, saat hendak melanjutkan perjalanan.


Kejadian yang lebih parah saat sarapan di hotel lumayan ternama di kota yang sama. Ketika kami sedang sarapan pagi melihat tiga orang pria usia 30 sampai 50 tahun. Mereka turun dari atas lewat lift dan duduk di dekat meja kami. Namun mereka tidak langsung sarapan tapi malah ngobrol di meja sebelah teman saya. Salah seorang teman saya menaruh tas brandednya di bawah meja yang bersebelahan dengan meja mereka.


Saat sedang makan, tiba-tiba teman yang sedang merokok di luar teriak kalau tas teman saya dibawa kabur orang tersebut. Karena dia tau itu tas teman saya. Dan dari awal sudah curiga. Kami reflek langsung mengejar.


Mereka yang awalnya jalan cepat langsung berlari. Namun 2 orang terjebak di jalan buntu. Kebetulan saat itu ada patroli polisi yang lewat. Setelah diberi beberapa pukulan, langsung dilerai polisi. Pencopet tersebut langsung diborgol. Sedangkan yang 1 orang lagi menghilang. Ternyata mereka tidak menginap di hotel tersebut. Setelah dilihat di kamera CCTV, mereka hanya berpura-pura naik ke atas terus turun lagi dan mengincar penghuni hotel. Setelah di-BAP, tas teman saya dikembalikan dan kedua pencopet tersebut ditahan.


Jadi ada banyak cara pencopet beraksi. Untuk traveller dimanapun dan kapanpun harus selalu hati-hati dan waspada serta selalu menjaga barang bawaannya. Agar kejadian yang menimpa banyak turis ini tidak terjadi pada anda. (zh)
Read more

Tuesday, May 16, 2017

Pantai Panjang Bengkulu Sebuah Destinasi Baru

Adakah yang mengenal Pantai Panjang? Jika ada, bisa jadi jumlahnya belum banyak. Atau sangat mungkin hanyalah para wisatawan domestik.

Bengkulu, kota di pesisir barat Pulau Sumatera yang berbatasan dengan Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat ini, belum terlalu akrab di telinga para wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Padahal jika terbang dari Jakarta hanya memakan waktu 50 menit saja. Jauh lebih dekat dari Bali atau Surabaya. Jaraknya hampir sama dengan Batam dan Belitung yang sekarang mulai banyak di kunjungi wisatawan domestik.

Sebenarnya ada banyak destinasi wisata yang menarik di Bengkulu. Baik wisata budaya, seperti Festival Tabot yang diadakan setiap tahun dan dihadiri ribuan masyarakat. Wisata sejarah dengan hadirnya Benteng Marlborough, rumah pengasingan Bung Karno, Rumah Ibu Fatmawati dan juga Museum Bengkulu.
Kekayaan wisata alam di Bengkulu

[caption id="attachment_1448" align="aligncenter" width="640"] Jika dikelola dengan baik, Pantai Panjang akan menjadi destinasi favorit wisatawan jika mereka ke Bengkulu. (Foto: ZH/traveltoday)[/caption]

Wisata alamnya justru lebih banyak pilihan. Disini ada beberapa danau yang cantik namun belum tersentuh investor untuk mengelolanya sebagai destinasi wisata. Ada bunga bangkai atau Bunga Raflessia Arnoldi yang tumbuh musiman dan sangat terkenal di dunia. Bukit-bukit yang bisa didaki untuk penggila hiking dan treking. Dan yang paling utama tentu saja pantai-pantai yang memanjang puluhan kilometer di kota Bengkulu. Salah satu yang terkenal dan sudah menjadi tujuan wisata utama di Bengkulu adalah Pantai Panjang.

Pantai ini mengingatkan saya akan pantai Ipanema dan pantai Copacabana di Rio De Janeiro, Brazil. Itu karena letaknya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat kota, pasirnya yang putih dan halus, ombaknya yang cukup besar, dan setiap sore anak-anak bermain bola serta bersantai menikmati sunset di tepinya.

Yang membedakan, tentu saja Ipanema dan Copacabana sudah mendunia. Sedangkan Pantai Panjang baru dikunjungi wisatawan domestik. Itupun belum ramai.

Perbedaan utama lainnya, di sepanjang pantai Ipanema dan Cobacabana, kita bebas berenang dan bermain selancar air dan melakukan olahraga air lainnya. Tapi itu tidak dapat dilakukan di Pantai Panjang.

Di beberapa bagian pantai ini terdapat palung laut dan ombak bawahnya yang lebih besar. Sehingga banyak perenang yang sering terjebak dan terbawa arus ke tengah. Hal ini cukup membahayakan. Menurut cerita penduduk setempat sudah banyak korban di pantai ini. Saya tidak melihat penjaga pantai, tanda bahaya, dan larangan untuk pengunjung.

Semestinya bisa dilakukan penelitian terhadap daerah-daerah yang berbahaya. Kemudian dipasanglah tanda bahaya di sana. Semakin banyak korban akibat ketidaktahuan tentu akan merugikan pariwisata di pantai ini.

Sedangkan di tempat yang aman bisa disediakan tali-tali pembatas dengan drum-drum besar yang di bawahnya terdapat jaring pengaman. Seperti yang saya lihat di Pantai Pattaya, Thailand. Sehingga para wisatawan dapat berenang dan tahu batasan keselamatan yang tidak boleh dilanggar.

Keberadaan para penjaga pantai sangat perlu. Selain akan memberikan rasa aman kepada para pengunjung, keahlian mereka sangat diperlukan dalam situasi darurat.
Pantai Tapak Paderi

Sebenarnya ada pantai yang sudah ditetapkan sebagai tempat berenang dan olahraga air, yaitu Pantai Tapak Paderi. Letaknya di depan Benteng Marlborough. Letaknya sangat strategis dan jarak tepi ke bibir pantai juga sangat luas.

Namun sayangnya pantai ini sangat kotor dan berantakan. Sampah bertebaran dimana-mana. Rumput tumbuh dengan tinggi dan merambat dengan liar. Pedagang dan penyewa ban memasang tenda semaunya.  Perahu-perahu nelayan juga parkir di sembarang tempat. Benar-benar merusak pemandangan. Miris melihatnya.

Pantai Tapak Paderi sangat potensial untuk dijadikan arena water sport layaknya Benoa Bali. Tentu saja jika saja pantai ini dibuat rapi dan dikelola dengan baik. Bisa juga dikembangkan sebagai tempat berenang dan destinasi favorit keluarga layaknya Pantai Ancol di Jakarta.
Pantai-pantai tematik

[caption id="attachment_1447" align="aligncenter" width="640"] Anda bisa melihat betapa luasnya hamparan pasir putih di Pantai Panjang, Bengkulu ini. Perlu sentuhan profesional.[/caption]

Saya telah menyusuri pantai-pantai yang ada di kota Bengkulu. Mulai dari Pantai Tapak Paderi sampai ujung Pantai Pasir Panjang yang panjangnya lebih dari 5 kilometer. Saya membayangkan jika saja pantai-pantai yang aslinya sudah indah ini dikelola dengan baik. Tentu akan sangat menyenangkan.

Perlu dibuat beberapa atraksi menarik di sana. Bayangkan jika ada pantai khusus untuk rekreasi keluarga yang bisa buat berenang, main pasir bersama anak-anak dan berbagai fasilitas menarik lainnya. Mungkin juga ada pantai yang khusus untuk olahraga air yang menyediakan banana boat, jet sky, parasailing, kano, dan lain-lainnya.

Pantai khusus untuk olahraga pantai juga bisa dijadikan alternatif pengembangan. Di sana bisa dijadikan arena voly pantai, tenis pantai, futsal, alat-alat gym outdoor, dan beberapa olahraga lainnya. Seperti pantai-pantai khusus olahraga di Sydney Australia.

Memadukan wisata alam dan seni pun menarik. Bukan tidak mungkin ada pantai yang disiapkan khusus untuk para musisi menampilkan keahlian mereka menghibur para pengunjung pantai. Dengan panggung kecil dan tempat-tempat duduk pantai layaknya Pantai Seminyak, Bali.

Di bagian ujung Pantai Panjang terdapat gugusan pohon cemara. Rasanya akan menarik jika dijadikan untuk outing dan gathering baik bagi perusahaan maupun keluarga. Dari pohon ke pohon tersebut bisa dibuat banyak permainan ketangkasan untuk menguji ketangkasan dan adrenalin pengunjung.

Sedangkan yang paling ujung sekali bisa dibuat pantai khusus untuk orang yang menyukai ketenangan. Pantai ini khusus untuk para pembaca buku, orang-orang tua yang menyukai kesunyian, dan pasangan-pasangan yang tidak ingin diganggu. Mungkin tepat juga untuk pelancong yang sekadar ingin berjemur dan tiduran di pantai dan para pemancing yang menyukai ketenangan dan tak ingin pancing mereka terkait para pengunjung lainnya.

Jika pantai-pantai tematik ini bisa dibuat di Bengkulu. Tentu saja akan sangat menarik bagi para wisatawan. Promosi pantai pun akan sangat mudah. Karena sasarannya sudah sangat jelas. Semua tempat tersebut ada penikmatnya. Wisatawan yang datang bisa langsung memilih tempat sesuai seperti yang mereka inginkan.

Dan jika bosan mereka bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan keinginannya. Ada banyak atraksi pantai yang dapat mereka lakukan. Sehingga waktu kunjungan mereka akan lebih lama. Karena jualan pantai bukan hanya sekedar keindahannya tapi selain itu apa yang dapat mereka lakukan di sana, yang membuat wisatawan betah berlama-lama.
Menggandeng investor dan profesional

Sudah saatnya pemerintah daerah Bengkulu mengajak kerjasama pihak swasta yang profesional dan berpengalaman dibidangnya, untuk mengelola pantai-pantai indah tersebut. Sehingga menjadi destinasi wisata baru yang bisa menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Imbasnya bukan hanya menambah penghasilan daerah tapi juga akan menyentuh semua industri yang berhubungan secara langsung dengan pariwisata. Seperti transportasi, perhotelan, kuliner, produk kerajinan rakyat, usaha tour & travel, serta industri kecil dan menengah lainnya.

Dengan segala potensi alam tadi, Bengkulu tak seharusnya teringgal dari daerah lainnya. Semoga…. (zh)
Read more

Wednesday, May 10, 2017

Benteng Marlborough Saksi Bisu Penjajahan Empat Negara

Untuk mengetahui sejarah panjang kolonialisme yang pernah terjadi di Indonesia datanglah ke Bengkulu. Di kota ini terdapat bentuk peninggalan penjajahan yang sangat besar berupa benteng yang diberi nama Benteng Marlborough atau Fort Malborough.

Menilik sejarahnya, benteng ini dibangun selama 5 tahun oleh Inggris. Pembangunan dimulai dari tahun 1714 dan selesai tahun 1719. Benteng Marlborough dibangun karena Benteng York yang sebelumnya telah dibangun di tepi muara Sungai Serut yang dikelilingi rawa-rawa, menyebabkan banyak warga Inggris meninggal. Mereka terjangkit malaria, disentri dan TBC.

Inggris kemudian mengadakan pendekatan kepada raja-raja Bengkulu. Hasilnya Inggris mendapatkan lokasi yang lebih luas dan lebih strategis di bukit kecil tepi Pantai Tapak Paderi.

Pembangunannya dikerjakan oleh arsitek dan para pekerja yang didatangkan dari India. Pemberian nama Fort Marlborough adalah sebagai kenangan kepada seorang komandan militer asal Inggris yang bernama John Churchill, yang terkenal sebagai "The First Duke Of Marlborough".
Menelusuri Benteng Marlborough

[caption id="attachment_1429" align="aligncenter" width="640"] Mari masuki Fort Marlborough... (foto: ZH/traveltoday)[/caption]

Dengan membayar Rp5000 saja, kita sudah bisa masuk dan menjelajahi benteng ini. Begitu masuk gerbang pertama di sebelah kiri ada 3 kuburan perwira Inggris yang dikuburkan di sini.

Kemudian kita akan menyeberangi jembatan untuk menuju gerbang kedua. Di bawah jembatan terdapat seperti sungai kecil dengan rumput yang rapi. Dulu sungai ini berisi ranjau darat yang menghalangi semua orang untuk mendekati benteng dan menghalau semua serangan darat ke Benteng Marlborough.

Kemudian kita akan memasuki pintu gerbang kayu yang sangat tebal dengan mur-mur baja yang sangat kuat. Pintu gerbang ini mengingatkan kita akan pintu-pintu gerbang benteng di China. Walaupun usianya sudah ratusan tahun namun masih tampak sangat kuat dan kokoh.

Begitu memasuki ruangan di sebelah kiri, maka kita akan diajak untuk membaca sejarah Bengkulu dan kolonialisme di Indonesia. Diawali dengan kejayaan kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu. Kemudian masuknya delegasi perdagangan dari Inggris yang akhirnya menguasai Bengkulu. Tukar guling Inggris dan Belanda ditandai dengan traktat London pada tahun 1824. Dimana Inggris pindah ke Singapura yang dikuasai oleh Belanda dan Belanda kemudian menguasai Bengkulu sampai tahun 1942.

Setelah kekalahan sekutu oleh Jepang, Belanda terusir dan Jepang menguasai Bengkulu hingga tahun 1945. Jepang membangun bunker-bunker perlindungan di sisi luar benteng ini untuk bertahan dari serangan musuh.

Setelah kekalahan Jepang, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Benteng Marlborough ini dikuasai oleh Indonesia dan digunakan sebagai markas Polri. Kemudian jatuh lagi ke tangan Belanda setelah Belanda membonceng sekutu dan melakukan Agresi Militer I dan II di tahun 1949.

Setelah berlangsungnya Perjanjian Meja Bundar, Benteng Marlborough benar-benar menjadi milik Indonesia.

Ketika hampir selesai pembangunannya di tahun 1718, benteng ini pernah diserang dan diduduki oleh rakyat Bengkulu yang dipimpin oleh Pangeran Jenggalu. Inggris sempat kabur ke Madras, India. Tetapi kembali ke Bengkulu di tahun 1724 setelah mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan Sungai Lemau yang menguasai Bengkulu kala itu.

Kemudian tahun 1760 Benteng ini diserang oleh 500 lebih pasukan Perancis yang dipimpin oleh Comte D'Estaing. Namun kemudian diserahkan lagi ke Inggris di tahun 1963 setelah penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Inggris dan Perancis.

Tahun 1807 terjadi gerakan sosial perlawanan petani kopi karena protes dengan sistem pertanian yang dipaksakan yang dikenal dengan nama Peristiwa Mount Fellik. Thomas Parr dibunuh di Mount Fellik dan dimakamkan di dekat pintu masuk Benteng Marlborough ini.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi di Benteng Marlborough. Benteng yang sampai saat ini masih berdiri sangat kokoh ini telah menjadi saksi bisu dan sejarah panjang perjuangan kolonialisme yang berkedok perdagangan di Indonesia. Dan juga saksi atas perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan.

Benteng Marlborough memiliki panjang 240,5 meter dan lebar 170,5 meter. Sedangkan ketebalan temboknya mencapai 3 meter. Hal ini dapat kita lihat begitu kita masuk ruangan sisi kanan. Terdapat dua ruangan penjara yang ada jendelanya dengan dua tirai besi. Pada saat itu penjara ini diisi oleh tokoh-tokoh politik tahanan perang. Terdapat gambar kompas dan goresan berbahasa Belanda ketika tokoh politik Belanda ditahan Jepang.

Selanjutnya kita akan masuk ke halaman terbuka dengan banyak meriam yang moncongnya mengarah ke laut. Di sisi kanan terdapat beberapa ruangan penghuni dengan banyak pintu. Yang membuat penghuni ruangan bisa kabur dari pintu mana saja ketika ada serangan.

Sedangkan di bagian depan terdapat gedung memanjang dengan deretan ruangan yang di gerbang utamanya bertuliskan "Kantor East India Company".

Kemudian kita bisa naik tangga ke lantai dua ujung kiri. Dari sini kita bisa melihat ke laut lepas. Dahulu di bawah benteng ini langsung laut. Namun karena pennyusutan air laut yang terus menerus, maka jarak benteng dengan laut semakin jauh.

Di atas sini juga terdapat meriam yang diarahkan kelaut. Dan di bawahnya adalah gudang senjata. Ditengah ada lubang berbentuk sumur untuk memasok senjata keatas. Duduklah di atas dinding beton yang ada. Memandanglah jauh ke laut lepas dan bayangkanlah semua peristiwa yang telah terjadi di Fort Marlborough ini.

Setelah puas, kita dapat mengitari benteng setengah lingkaran berbentuk U ke sisi lainnya. Atap benteng masih tampak sangat kokoh dan kuat. Seperti menyusuri tembok-tembok benteng di Eropa. Sangat berbeda dengan bangunan-bangunan yang ada sekarang. Pemandangan dari atas benteng ini cukup indah. Sekeliling benteng ditumbuhi rumput hijau yang menjadi tempat bermain anak-anak.

Selesai dari benteng Marlborough ini, kita bisa melanjutkan perjalanan wisata sejarah Indonesia dengan mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno dan juga Ibu Fatmawati. Bagaimana Bung Karno mengisi hari-harinya di pengasingan dengan banyak kegiatan. Termasuk menggambar dan membangun masjid beratap rumah limas khas Melayu yang terletak di pusat kota Bengkulu hingga akhirnya bertemu tambatan hatinya Ibu Fatmawati.

Betapa kota Bengkulu telah menjadi saksi sejarah dari perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme. Dari mulai masuknya Inggris, Perancis, kemudian Belanda dan Jepang. Mereka telah meninggalkan jejak-jejak yang sangat besar di bumi Bengkulu.

Jadi berwisatalah dan belajarlah sejarah Indonesia ke Kota Bengkulu. (zh)
Read more

Tuesday, May 2, 2017

Gold Coast: Surfer Paradise, Movie World, dan Gemerlap Wisata Malamnya

Saya telah puas menikmati keindahan alam Surfer Paradise. Juga puas memacu adrenalin dengan naik berbagai permainan di Movie World. Maka, saatnya melepas lelah dan menikmati wisata malam di Gold Coast.

Pusat hiburan malam di Gold Coast terletak di pusat keramaian pantai Surfer Paradise. Tempat ini jika siang hari dipenuhi berbagai macam toko souvenir, butik, restaurant dan café. Lalu, menjelang malam setelah semua toko tersebut tutup, berbagai macam cafe, bar, night club dan diskotik mulai buka.

Surfer Paradise Square tampak bergelimang cahaya. Dalam satu lokasi yang tidak lebih luas dari kawasan Kuta, Bali terdapat banyak tempat hiburan malam yang bisa kita kunjungi. Mulai dari nama-nama terkenal seperti Hard Rock Café dan Beer Club sampai klab-klab lokal yang menjamur di area tersebut.

Saya pergi bersama teman sesama traveller yang baru kenal saat bertemu di lobby hotel tempat kami menginap. Satu orang dosen asal Jepang dan satu orang lagi dokter asal Selandia Baru. Sebagai sesama solo traveller obrolan kami pun langsung nyambung. Apalagi ini malam minggu, sayang sekali jika berdiam di kamar hotel.

Sebelum mengunjungi klab, kami memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran Thailand. Bukan sebuah tempat yang ideal bagi saya jika ditilik dari sisi harga makanan. Satu mangkuk sup tom yam dihargai 30 dolar Australia. Cukup menguras kantong.
Klab baru buka jam 11 malam

Selesai makan sekitar jam 8 malam. Klab yang kami ingin singgahi belum buka. Rata-rata waktu buka klab-klab di sini sekitar jam 11 malam. Lalu, pergilah kami ke kedai bir kecil untuk sekadar ngobrol sambil menunggu.

Harga minuman di sini per gelas atau per botol kecil mulai dari 6 sampai 8 dollar Australia. Tak jauh berbeda dengan beberapa kota besar lainnya di dunia. Termasuk Jakarta dan Denpasar. Bar ini tidak menyediakan makanan maupun cemilan ringan. Tidak juga menyediakan kopi atau teh. Tidak seperti kebanyakan bar di Jakarta. Jadi, semua minuman beralkohol. Yang paling ringan ya bir.

Kami mengobrol sana-sini. Saling menceritakan pengalaman menjadi solo traveller. Teman asal Jepang sudah dua minggu menjelajah Australia, sama seperti saya. Bedanya dia mulai dari Melbourne dan berakhir di Sydney. Saya justru sebaliknya. Sedangkan teman yang dari Selandia Baru belum lama memulai perjalanannya dari Gold Coast. Sekitar tiga hari.

Kami berbagi cerita tentang keindahan negara masing-masing dan tentu saja saling berbagi alamat dan sosial media. Kami berjanji suatu saat untuk saling mengunjungi. Janji itu saya tepati, Dalam perjalanan saya ke Jepang di kemudian hari, saya sempat ditraktir makan Kobe beef yang sangat terkenal di Kobe, kota tempat teman Jepang saya tinggal.

‪Pukul 11 malam kamipun mulai beranjak pergi. Makin malam area ini makin ramai. Kami sempat kebingungan karena begitu banyak tempat hiburan di daerah ini.
Antrean panjang adalah klab pilihan

[caption id="attachment_1410" align="aligncenter" width="960"] Salah satu klab yang diminati di Surfer Paradise Square. (foto: Zahrudin Haris/traveltoday)[/caption]

Di beberapa tempat tampak antrean mengular sampai ke jalan. Layar-layar televisi berukuran besar menampilkan hiburan yang sedang berlangsung di dalam klab. Ada yang menampilkan live music dengan berbagai genre musik. Ada juga DJ-DJ terkenal asal Australia, Eropa, dan Amerika. Tampak pula beberapa penari sedang meliuk-liuk mengundang kita agar masuk ke dalam.

Kami memilih satu tempat yang antreannya paling ramai. Asumsi kami makin ramai antrean tentu saja tempat itu memiliki kelebihan dibandingkan tempat lainnya.

Setelah antre lebih dari setengah jam kami masuk ke satu klab yang sangat ramai pengunjung. Untuk masuk kami hanya harus pesan minuman yang bisa langsung diambil di dalam Kami pun berbaur dengan banyak pengunjung dari berbagai belahan dunia lainnya. Semua tampak akrab dan saling mengobrol walaupun baru kenal. DJ yang tampil adalah seorang yang ternama di dunia. Sayang, saya lupa namanya.

Dentuman musik, cahaya lampu warna-warni berpadu dengan berbagai jenis cocktail memang membuat malam terasa cepat berlalu. Tetapi kami seakan berlomba dengan malam demi mendapatkan pengalaman berbeda.

Kami berpindah-pindah ke beberapa tempat lainnya. Semuanya memberikan kesenangan yang sama. Surfer Paradise bukan hanya surga buat para surfer tapi juga bagi kami dan bagi semua yang singgah ke sini.

Gold Coast menyisakan kenangan yang tak terlupakan. (ZH)
Read more

Monday, April 3, 2017

Gemerlap Dubai sebagai Kota Petro Dollar

Siapa yang tidak tahu Dubai? Kota yang terletak di Teluk Persia ini adalah salah satu kota terpadat dari tujuh emirat yang tergabung dalam Uni Emirat Arab. Dubai terkenal akan bangunan-bangunannya yang megah, menakjubkan, dan memecahkan rekor dunia.

Dubai juga menjadi kota favorit kaum kaya dan selebritas dunia untuk berlibur. Karena di kota ini mereka bisa mendapatkan segalanya. Karena itulah saya sangat penasaran untuk menjelajahi kota ini.

Tahun lalu kesempatan itu datang. Saya memanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mengeksplorasi kota ini. Ada banyak tempat yang bisa dikunjungi di Dubai. Tentu saja yang paling menarik adalah Burj Khalifa yang merupakan gedung tertinggi di dunia, tur di padang pasir, pulau-pulau buatan yang sangat terkenal dan tempat-tempat menarik lainnya.

Setelah terbang 9 jam dari Jakarta. Saya tiba di kota Dubai pada pagi hari. Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Museum Dubai. Karena saya ingin tahu sejarah kota ini, sebelum mengunjungi tempat-tempat lainnya.

Saya datang pada saat musim panas. Matahari sedang sangat terik-teriknya. Suhu berkisar dari 40-45 derajat Celcius. Panas sekali. Setiap kali keluar menuju tempat terbuka, udara panas langsung menusuk kulit. Tapi itu tidak mengurangi niat untuk menjelajahi kota ini.

Belajar di Dubai Museum

[caption id="attachment_1389" align="aligncenter" width="960"] Ini salah satu yang dipertunjukkan di Dubai Museum. Kota ini punya sejarah panjang sebelum dikenal seperti saat ini. (Foto: Travel Today)[/caption]

Dubai Museum terletak di Benteng Al Fahidi, dibangun pada tahun 1787 dan dianggap sebagai bangunan tertua di Dubai. Museum ini dibuka secara resmi pada tanggal 13 Mei 1971. Museum Dubai terdiri dari dua lantai. Begitu kita masuk kita akan bertemu dengan lapangan terbuka dan beberapa ruangan yang menggambarkan kehidupan masyarakat Dubai pada zaman dulu. Dipamerkan juga beberapa senjata dan alat-alat rumah tangga serta ruangan-ruangan yang ada dalam rumah warga. Kita bisa berfoto-foto layaknya sedang bertamu ke rumah-rumah keluarga Dubai zaman dulu.

Setelah itu kita akan dibawa ke ruangan bawah. Kita diajak untuk menyusuri lorong-lorong yang menggambarkan kehidupan warga. Mulai kedatangan mereka ke tempat ini sampai dengan pembangunan yang menjadikan kota ini maju dengan pesat.

Di sini juga dipamerkan benda-benda antik dan banyak artefak dari beberapa negara Asia dan Afrika yang pada saat itu sudah melakukan perdagangan dengan Dubai. Perjalanan Dubai dari desa kecil di padang pasir, sebelum ditemukannya minyak bumi, sampai menjadi kota petro dollar digambarkan dalam bentuk diorama dan juga foto-foto yang apik. Juga terdapat foto-foto pemimpin Dubai dari Dinasti Al Maktoum hingga saat ini.

Dubai Museum menjadi tempat menarik untuk belajar, bagaimana sebuah tempat di padang pasir yang tandus, di pinggir laut yang panas, yang awalnya cuma tempat persinggahan para pedagang dari Asia dan Afrika menuju kawasan Persia, menjelma menjadi satu wilayah yang sekarang menjadi sorotan dunia. Tempat semua orang kaya berlibur dan menghamburkan uangnya. Benar-benar perubahan yang luar biasa.

Indahnya Burj Khalifa 

[caption id="attachment_1390" align="aligncenter" width="800"] Saya berada di depan Burj Khalifa yang menjadi ikon Dubai. (Foto: pribadi)[/caption]

Setelah menikmati Dubai zaman dulu di Dubai Museum. Saatnya mengunjungi dan menikmati bangunan kebanggaan Dubai yang merupakan gedung tertinggi di dunia, yaitu Burj Khalifa. Bangunan ini memiliki tinggi 828 meter dan untuk pembangunannya menghabiskan dana 1,5 milyar dollar. Burj Khalifa diresmikan pembukaannya pada tanggal 4 Januari 2010 dan secara resmi menyandang predikat gedung tertinggi di dunia.

Burj Khalifa juga mempunyai dua rekor lain. Yaitu lift tercepat dengan kecepatan 60 kilometer per jam dan juga rekor untuk bangunan dengan lantai terbanyak yaitu 160 lantai.

Ada banyak cara menikmati gedung tertinggi ini. Kita bisa ikut naik ke atas yang terbagi dari tiga tingkatan. Harga mulai USD38.00 dari tingkat pertama sampai dengan ke puncaknya. Dari puncak Burj Khalifa kita bisa melihat Dubai dengan pandangan 360 derajat. Tampak dengan jelas gedung-gedung pencakar langit lainnya dan juga Burj al Arab yang sangat ikonik serta Palm Jumeira, pulau buatan yang menyerupai pohon palem tempat orang-orang kaya di dunia tinggal.

Kalau tidak ingin keluar biaya, cukup pergi ke Dubai Mal. Kemudian keluar ke sisi samping dan nikmati Dubai dari bawah. Kita dapat berfoto-foto dengan latar belakang gedung ini. Dan tunggulah sore menjelang malam. Saat air mancur terbesar di dunia berjoget mengikuti musik dengan cahaya lampu memancar dari dalam air. Serta Menara Khalifa yang seakan ikut berdansa dengan ditutupi cahaya lampu yang berganti-ganti bentuknya dari dasar sampai ke puncaknya. Sungguh sangat indah.

Cuci mata di The Dubai Mall 

[caption id="attachment_1391" align="aligncenter" width="960"] Dubai punya banyak cara untuk memuaskan para pelancong. Dubai Aquarium ini salah satunya. (Foto: Travel Today)[/caption]

Setelah puas menyaksikan keindahan Burj Khalifa. Saya masuk menjelajahi The Dubai Mall. Salah satu mal terbesar di dunia. Mal yang memiliki banyak prestasi di dunia ini terdiri dari 4 lantai. Namun karena luasnya, perlu waktu cukup lama untuk sekadar cuci mata menyusurinya.

Semua merk ternama ada disini. Juga terdapat banyak restaurant dan cafe ternama dunia. Bukan cuma itu, di mal ini juga terdapat Dubai Aquarium dan Underwater Zoo yang juga diklaim sebagai terbesar di dunia yang selalu dipenuhi oleh pengunjung anak-anak dan keluarga.

Di bagian luar juga terdapat danau buatan, taman-taman yang menarik buat foto dan tentu saja resto dan kafe yang bertebaran yang sangat asyik untuk sekadar ngopi atau hang out bareng teman-teman. Sedangkan foodcourt terdapat di lantai paling atas. Menyajikan restaurant Arab, Asia, dan western.

Ada satu tempat menarik lagi untuk traveller yang suka dengan dunia dirgantara. Di salah satu bagian ada potongan bagian depan pesawat Emirates Airlines yang ternyata merupakan satu permainan yang membuat kita bisa merasakan menjadi seorang pilot. Sensasi yang ditimbulkan sungguh luar biasa. Layaknya pilot pesawat yang sedang mengangkasa. Sangat menarik.

Dubai bukan cuma itu saja. Masih banyak tempat lainnya. Ikuti perjalanan saya beradu balap di gurun pasir dan juga bermain ski es di Dubai yang panas.

(Bersambung...) 
Read more

Wednesday, March 29, 2017

Gold Coast: Dari Surfers Paradise ke Movie World

Setelah menikmati indahnya pantai-pantai di Gold Coast di hari pertama kunjungan saya ke Australia, maka di hari kedua ini saya memutuskan untuk mengunjungi destinasi wisata andalan Gold Coast lainnya, yaitu Theme Park. Dari Surfers Paradise tersedia banyak bus menuju ke tempat ini.

Di Gold Coast ada lima Theme Park yang sangat terkenal dengan beragam permainan, yaitu Warner Bross Movie World, Dream World, Wet'n Wild Water World, Sea World dan Paradise Country. Jam buka mulai dari pukul 9.30 pagi sampai dengan pukul 5 sore waktu setempat.

Saya memutuskan untuk mengunjungi theme park movie yang paling besar dan paling terkenal yaitu Warner Bross Movie World. Taman rekreasi yang dibuka sejak tahun 1991 ini merupakan taman rekreasi tentang film yang terbesar di Australia dan paling hits sedunia. Sesuai dengan namanya, semua permainan yang ada theme park ini, berasal dari judul film. Seperti Scooby doo, Batman, Superman, Green Lantern, Looney Tunes dan tokoh-tokoh fIlm karya Warner Bross dan DC Comic lainnya. Dengan membayar 79,99 dollar Australia saya sudah boleh menikmati semua jenis permainan yang ada di sini seharian penuh.

Movie World dibagi menjadi tiga area. Area permainan ekstrim yang banyak diisi oleh anak muda. Lalu area hiburan keluarga dan area khusus anak-anak. Saya sangat menyukai roller coaster. Ada 5 roller coaster di sini. Yang terbesar dan paling ekstrim ada tiga, yaitu Green Lantern Coaster, Arkham Asylum, dan Superman Escape. Ketiganya mempunyai kecepatan 100 km/jam dalam dua detik dan tingginya bikin mata menyipit.  Sedangkan satu lagi Batwing Spaceshot mirip wahana hysteria di Ancol namun jauh lebih tinggi. Saya tidak terlalu suka permainan naik turun yang bikin nyawa seakan-akan lepas ini.

[caption id="attachment_1364" align="aligncenter" width="960"] Jika anda seorang adrenaline junkie, rasakan roller coaster di Movie World ini. Mendebarkan. (Foto: pribadi)[/caption]

Saya mencoba ketiga roller coaster yang ada. Green Lantern, Arkham Asylum, dan terakhir Superman Escape. Saya telah mencoba banyak roller coaster seperti di Singapura, Hongkong, Tokyo, dan beberapa kota lain. Tapi setelah saya mencoba ketiga roller coaster yang ada disini, kaki saya gemetaran dan nyaris tidak kuat berdiri lagi. Benar-benar memicu adrenalin dan membuat kita tertawa sambil mengeluarkan airmata dan kehilangan suara. Hehehe.

Kemudian saya menjelajahi theme park ini. Saya seperti berpetualang dalam dunia film yang sangat terkenal. Seperti Wild-wild West,  Scooby Doo (roller coaster di dalam ruangan yang cukup mendebarkan), Hollywood Stunt Driver, Gotham City Hall, Alien invasion, dan lain-lain.

Karena penasaran saya juga masuk ke Movie World khusus anak-anak. Ternyata isinya sama persis seperti yang ada di tempat dewasa. Hanya saja dengan versi mini yang lebih kecil dan terlihat imut. Saya menyaksikan anak-anak bermain didampingi oleh orang tuanya. Ada yang belajar setir mobil, naik roller coaster, main wahana air, dan lain-lain. Betapa tempat ini sangat menggembirakan.

Tanpa terasa waktu sudah pukul 4 sore. Tiba-tiba semua orang ramai berdiri di pinggir jalan utama. Saya pun ikutan mendekat. Ternyata tak lama kemudian muncul parade semua tokoh DC yang terkenal. Mulai dari superhero seperti Batman lengkap dengan kendaraannya yang bisa terbang, Superman, Catwoman, Supergirl, Green Lantern, Wonderwoman, The Flash, dan ada Marylin Monroe juga.

Tokoh-tokoh DC yang lucu dan menjadi idola anak-anak juga keluar menyemarakkan parade ini. Seperti tokoh-tokoh yang ada di film Scooby Doo, Loney Toon, Twitty, dan banyak lagi lainnya yang saya tidak hapal nama-namanya.

[caption id="attachment_1365" align="aligncenter" width="960"] Batman akan menyapa pengunjung Movie World secara langsung. Untuk anak-anak pasti menyenangkan. (Foto: pribadi)[/caption]

Parade berjalan sangat meriah. Di akhir parade semua orang turun ke jalan berjoget mengikuti irama musik menyatu dengan tokoh-tokoh idolanya. Sambil meminta foto bersama. Seraya ditebar convety warna warni yang ditembakkan dari segala arah. Benar-benar seperti pesta dengan tokoh idola. Saya pun ikut membaur di dalamnya.

Musik telah berakhir dan waktu telah menunjukkan pukul 5 sore. Semua pengunjung bersiap untuk pulang. Saya mengakhiri perjalanan hari ini dengan perasaan sangat puas. Saya kembali ke hotel untuk istirahat sejenak dan bersiap melanjutkan perjalanan wisata di malam hari.

(Bersambung....)

Zahrudin Haris
Read more

Tuesday, March 28, 2017

Gold Coast: Surfers Paradise dan Movie World

Banyak yang bilang belum ke Australia kalau belum ke Gold Coast. Kota wisata pantai yang berada di timur Australia ini memang mempunyai magnet yang sangat kuat untuk menarik wisatawan. Buktinya jutaan wisatawan mengunjungi tempat ini setiap tahunnya. Termasuk saya yang sengaja terbang jauh ke Gold Coast untuk membuktikan dan menjelajahi keindahannya.

Ada dua magnet terkuat yang menjadi tujuan wisatawan datang ke Gold Coast. Pertama, pantainya yang berpasir putih dan memanjang puluhan kilometer. Kedua, theme park yang menyajikan berbagai permainan kelas dunia yang menantang adrenalin.

Surfers Paradise

[caption id="attachment_1360" align="aligncenter" width="960"] Surfers Paradise, surganya para peselancar. (Foto: pribadi)[/caption]

Ada tiga pantai yang sangat terkenal di Gold Coast yaitu Broad Beach, Main Beach, dan Surfers Paradise Beach. Pantai terakhir sangat terkenal di kalangan penggila surfing dan backpaker. Oleh karena itulah dan atas rekomendasi teman sesama traveler, saya memilih hotel yang berada di area pantai Surfers Paradise.

Saya tiba siang hari. Setelah check in hotel dan istirahat sejenak saya menuju pantai di sore hari. Hanya berjalan lima menit dari hotel saya telah tiba di pantai Surfer Paradise yang sangat terkenal ini. Di depan saya terpampang pasir putih yang halus dan sedikit menyilaukan mata. Saya melepaskan sandal. Dan kaki saya langsung terbenam di pasir putih serupa tepung ini. Saya harus berjalan lebih dari lima puluh meter untuk tiba di bibir pantai. Dan ketika saya mencelupkan kaki ke laut, ternyata airnya dingin. Padahal saat ini sedang musim panas.

Pantai ini sangat luas dan panjang. Ketika saya menoleh ke kiri dan kanan, tidak tampak ujungnya. Di pinggir pantai berdiri banyak hotel, apartemen, dan gedung-gedung tinggi lainnya. Tidak banyak orang yang sedang menikmati tempat ini. Hanya beberapa kelompok orang yang sedang berjemur. Tidak seperti pantai Kuta atau Seminyak di Bali yang selalu penuh dan ramai.

Perlahan saya berjalan menyusuri pantai menuju ke pusat keramaian Surfer Paradise. Sambil sesekali bermain dengan burung-burung merpati yang banyak terdapat di sepanjang pantai ini. Mereka terbang berkeliaran bermain di atas ombak yang menghempas pantai dengan kuat. Ketika air kembali ke laut burung-burung ini terbang melompat-lompat mematuk ikan kecil yang terdampar. Baru sekali ini saya melihatnya. Perpaduan yang indah. Birunya laut dan putihnya pasir ditingkahi debur ombak dan ragam warna burung merpati.

Rasanya wajar kalau pantai ini sangat terkenal di kalangan penggila surfing. Karena ombaknya sangat tinggi dan menghempas kuat di pantai pasir putih yang halus. Tidak nampak karang-karang berbahaya yang menghalangi seperti di pantai Suluban, Bali. Sehingga aman buat para surfer baik yang baru belajar maupun yang sudah profesional.

Saya juga melihat beberapa pemancing melempar kailnya ke tengah laut. Sambil berbasah-basahan terkena deburan ombak. Bingung juga melihatnya. Di tengah deburan ombak yang keras begini, apakah ada ikan yang bakal memakan kailnya. Karena penasaran, saya bertanya dan ternyata mereka penduduk asli Gold Coast yang sudah biasa memancing disini. Mereka sengaja memancing agak siang menjelang sore, karena pantai masih sepi. Makin sore pantai ini makin ramai. Sehingga pelan-pelan mereka menyingkir ke tempat yang lebih sepi, agar kail mereka tak terkena orang yang berenang.

[caption id="attachment_1359" align="aligncenter" width="960"] Ini tanya salah satu dari sekian banyak toko suvenir yang ada di sekitar vantai di Gold Coast. (Foto: pribadi)[/caption]

Makin sore pantai ini makin ramai. Tampak banyak orang mulai bergerombol menuju pantai. Sebagian sekadar berjemur dan sebagian lagi langsung melepas pakaian dan nyebur ke laut. Saya malah menepi dan menuju pusat keramaian Surfer Paradise. Layaknya Kuta Square atau Seminyak Square di Bali ada satu mal yang cukup besar. Di dalamnya banyak terdapat restaurant, cafe, butik-butik pakaian, toko suvenir, toko-toko permainan anak-anak dan dewasa juga tempat-tempat massage dan spa yang sebagian besar dikelola oleh orang Thailand.

Untuk makan di sini harga rata-rata 9 sampai 20 dollar Australia per porsi. Sedangkan untuk pijat dibanderol 30 sampai 50 dollar Australia untuk 30 menit sampai dengan satu jam. Sangat mahal jika dibandingkan dengan di Indonesia. Harga suvenir dan pakaian juga tak beda jauh.

Setelah puas melihat-lihat dan membanding-bandingkan harga. Saya memilih untuk menepi di restaurant yang pemandangannya langsung ke pantai. Tidak ada pelohonan yang menghalangi. Sambil memesan secangkir teh dan sepiring kudapan saya melepas pandangan sejauh mata memandang.  Menikmati indahnya sunset yang memancarkan beragam warna di ujung timur benua Australia ini.

(Bersambung....)

Zahrudin Haris
Read more

Monday, March 27, 2017

Terorisme Ganggu Pariwisata

Baru-baru ini, kita dikejutkan lagi oleh berita tentang aksi pelaku teror yang menabrakkan kendaraannya ke arah segerombolan turis di Pusat Pariwisata yang sangat terkenal di kota London, Westminster.

Kebetulan saya baru kembali dari menjelajahi London dan sekitarnya. Hampir setiap pagi saya memulai perjalanan wisata saya dari Stasiun Westminster. Karena begitu keluar stasiun, saya akan dengan mudah berpindah kendaraan menuju pusat-pusat pariwisata di kota London dan sekitarnya. Saya bisa berpindah ke bus hop on hop off yang bisa mengantar saya keliling London. Atau naik cruise tour menyusuri Sungai Thames dan menikmati kota London dari atas kapal. Bisa juga sekadar berjalan kaki menikmati megahnya Big Ben dan Naik London Eye - dua ikon kota London. Atau masuk melihat-lihat dari dalam kemegahan Gedung Parlemen Inggris yang sangat terkenal dan lanjut ke gedung Westminster Abbey.

Kalau nggak mau ribet, cukup berjalan-jalan di taman Westminster dan berfoto bersama patung-patung tokoh-tokoh terkenal seperti Churchil, Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, dan tokoh-tokoh lainnya. Dan yang paling digemari para traveller yaitu berfoto diatas jembatan Westminster. Jembatan yang selalu ramai dikunjungi oleh turis dari seluruh dunia dan menjadi tempat favorit untuk berfoto. Baik dengan latar belakang Big Ben ataupun sebaliknya dengan latar belakang London Eye.

Itulah tampaknya yang dilakukan oleh serombongan turis mancanegara pada saat ditabrak oleh teroris yang mengendarai kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sehingga 2 orang wisatawan meninggal dunia dan 40 lainnya terluka. Korban bertambah dengan ditikamnya seorang polisi dan ditembaknya pelaku teror oleh polisi.

Berita ini langsung memenuhi linimasa dan menyentak banyak wisatawan di dunia. Termasuk saya. Belum lepas satu minggu saya berada di sana. Saya tidak ingin membayangkan kejadian tersebut ketika saya berada di sana. Tentunya akan membuat ketakutan dan trauma untuk melakukan perjalanan wisata kemanapun. Dan kalau kita melihat ke belakang, ini bukan yang pertama kali. Pusat pariwisata dan keramaian orang menjadi incaran para teroris. Belum lepas dari ingatan kita kejadian di Nice, Perancis dengan pola yang hampir sama.

Teroris juga mengincar bandara seperti yang terjadi di Brussel, Belgia dan Istanbul, Turki yang mengakibatkan banyak korban jiwa dan terhentinya operasional bandara selama beberapa saat. Yang paling menghebohkan dunia tentu saja bom Paris yang diledakkan di depan Stadion Stade de France dan serbuan teroris ke tengah konser di Gedung Bataclan tahun 2016 lalu yang meyebabkan ratusan orang kehilangan nyawanya.

Belum lagi teror pada malam tahun baru yang terjadi di Reina Club, Istanbul. Sekelompok teroris bersenjata menyerbu masuk dan menembak membabi buta yang menewaskan 39 orang pengunjung yang sedang merayakan tahun baru. Reina Club terkenal sebagai klab mewah yang selalu dikunjungi kaum jetset dan wisatawan berduit ketika berkunjung ke Istanbul.

Kejadian di Club Reina mengingatkan kita dengan Paddy's Club dan Sari Club yang ada di Bali. Kedua tempat inj diserang bom secara bersamaan oleh teroris pada tanggal 12 oktober 2002. Tercatat 202 korban jiwa dan ratusan orang lainnya terluka. Sekarang meninggalkan monumen yang selalu diperingati setiap tahun. Kemudian tiga tahun kemudian di tahun 2005 terjadi lagi bom Bali II yang diledakkan teroris di pusat keramaian Kuta dan Jimbaran yang mengakibatkan 23 orang tewas dan melukai ratusan orang lainnya.

Sungguh aksi-aksi teror tersebut sangat menakutkan dan menghantui para wisatawan. Saya ingat sekali ketika saya mengunjungi Bali sebulan setelah Bom Bali I. Dampaknya sungguh luar biasa. Begitu juga peringatan satu tahun setelahnya. Bali menjadi sangat sepi. Hotel-hotel kosong sehingga memberi discount hampir setengah harga. Toko-toko sebagian besar tutup. Orang-orang berjalan dengan cepat dipenuhi ketakutan. Bali yang begitu ramai mendadak menjadi pulau mati. Perlu waktu lama untuk membangkitkan kembali pariwisata Bali sehingga pulih seperti sekarang ini.

Namun berbeda dengan sekarang. Tampaknya kini para wisatawan makin kebal atau makin tidak terlalu peduli. Buktinya, setelah bom yang meledak di pusat keramaian turis di Bangkok ternyata tempat itu kembali ramai dikunjugi wisatawan. Kebetulan saya sempat berada di sana. Mereka malah sengaja datang untuk menyaksikan bekas-bekas tragedi bom tersebut. Begitu juga setelah teror yang terjadi di dua kota budaya dunia, Paris dan Istanbul. Kedua kota turis ini dengan cepat bangkit dan kembali ramai dikunjungi oleh banyak wisatawan mancanegara.

Hal yang paling membuat heran justru ketika terjadi ledakan di Jalan Thamrin, pusat keramaian di Jakarta. Masyarakat bukannya menghindar saat terjadinya peristiwa tersebut, malah banyak yang datang mendekat. Berkerumun meninjau lokasi kejadian dan ber-selfie ria disana. Sampai beberapa hari setelahnya pun tetap ramai yang datang. Lokasi kejadian tersebut seakan menjadi destinasi wisata baru. Aneh bukan?

Tampaknya target teroris untuk membuat suatu kota mati dengan mengincar pusat-pusat keramaian yang dikunjungi oleh wisatawan tidak lagi menuai hasil seperti yang mereka harapkan. Masyarakat seolah hanya tersentak sejenak, ramai di berita. Buat meme-meme yang lucu. Kemudian setelah itu seolah lupa dan tidak perduli. Lalu beraktifitas seperti biasa. Tempat-tempat terjadinya teror tersebut kembali buka seperti biasa dan kembali ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Namun tentu saja selaku traveler, kita harus selalu berhati-hati dan mewaspadai lingkungan sekitar. Kalau ada yang mencurigakan lebih baik menghindar. Jangan lupa untuk selalu menyimpan nomor kedutaan Indonesia yang secara otomatis masuk lewat pesan pendek ke ponsel kita ketika kita mengunjungi suatu negara. Jika terjadi sesuatu atau berada di dekat kejadian, kita bisa langsung menghubungi nomor tersebut, baik untuk melaporkan kejadian dan keberadan kita ataupun meminta bantuan. Sehingga perwakilan pemerintah Indonesia selalu tahu keberadaan kita dan bisa segera mendatangkan bantuan.

Sebentar lagi memasuki bulan April. Mei dan Juni sudah di depan mata. Liburan anak sekolah telah tiba. Saatnya merencakan liburan keluarga. Menentukan pilihan tempat yang akan dikunjungi bersama keluarga tercinta. Makin cepat direncanakan tentu saja makin baik. Harga yang didapat untuk membeli tiket, hotel, dan lain-lain jauh lebih murah ketimbang mendekati saat liburan. Oleh karena itu rencakanlah dari sekarang dengan matang.

Selamat berlibur.

Zahrudin Haris
Read more

Wednesday, March 22, 2017

Purwakarta Tak Lagi Sekadar Kota Transit

Sejak ada tol Cipularang yang menghubungkan kota Jakarta dan Bandung. Saya tidak pernah lagi ke Purwakarta. Dulu kalau mau ke Bandung saya selalu lewat kota ini. Terkadang hanya sekadar lewat atau mampir untuk makan di Rumah Makan Sate Maranggi yang sangat terkenal itu.

Beberapa hari lalu, saya mewakili Chris John Foundation (CJF), mengadakan audiensi dengan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Saya banyak membaca tentang kiprah beliau di dunia olahraga dan juga pariwisata. Dua bidang yang saat ini saya geluti. Oleh karena itu saya sangat semangat untuk ketemu beliau yang digadang-gadang menjadi salah satu calon kuat Gubernur Jawa Barat periode mendatang.

Dengan tagline Purwakarta Istimewa, Pak Dedi telah membangun banyak fasilitas olahraga dan juga fasilitas pariwisata. Yang terbaru dan menjadi perbincangan masyarakat tentu saja Air Mancur Sri Baduga, Gedung Olahraga Purwakarta, dan Museum Nusantara.

Dalam pertemuan dengan beliau, kami memaparkan tentang keinginan untuk membangun satu pusat pendidikan olahraga tinju dengan nama Chris John Boxing Academy dan juga Museum Tinju Indonesia. Sebagai perwakilan CJF yang membawa nama besar Chris John, seorang legenda tinju Indonesia yang mempunyai gelar Super Champion dengan rekor 52 kali bertanding tak terkalahkan dan 18 kali berhasil mempertahankan gelar juara dunia, maka kami mempunyai mimpi akan lahirnya juara dunia baru dari sekolah tinju yang akan kami dirikan. Bukan itu saja, kami juga menginginkan bahwa olahraga tinju dan museum tinju bisa menjadi pusat pendidikan dan pariwisata di dunia olahraga. Istilah kerennya sport tourism.

[caption id="attachment_1324" align="aligncenter" width="672"] Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi menyambut kami dari Chris John Foundation dengan keramahannya. Terimakasih, Pak Bupati. (Foto: pribadi)[/caption]

Ternyata sambutan beliau sangat baik. Beliau setuju untuk membangun museum dan sekolah tinju seperti yang kami paparkan. Bahkan sudah berencana membuat museum olahraga di GOR yang sudah dibangun dan sudah juga membuat sekolah sepak bola. Sebagai perbandingan kami disarankan untuk mengunjungi museum yang ada di Purwakarta dan juga gedung olahraga yang sudah dibangun.

Dengan ditemani oleh pegawai dari Pemda Purwakarta, kami mengunjung Museum Nusantara yang baru dua hari lalu diresmikan. Di halaman museum ini terdapat logo semua propinsi yang ada di Indonesia. Sedangkan di dalam kita bisa tahu sejarah berdirinya Indonesia mulai dari zaman sebelum masehi, zaman kerajaan Hindu dan Budha, masuknya Islam di Nusantara dengan berdirinya kesultanan-kesultanan Islam sampai periode kemerdekaan Indonesia.

Kemudian kami melanjutkan mengunjungi Museum Purwakarta. Yang jaraknya tidak sampai 100 meter dari Museum Nusantara. Di museum ini kita dapat melihat dan mempelajari sejarah berdirinya Kabupaten Purwakarta. Terdapat foto para Bupati Purwakarta dari awal berdiri sampai saat ini. Juga ada hologram dan diorama tentang kota Purwakarta.

Kedua museum ini sangat menarik untuk dikunjungi. Terutama bagi pelajar yang ada di Indonesia. Untuk kota sekelas Purwakarta, museum ini tampak sangat modern dan sudah dilengkapi dengan sejumlah teknologi yang telah diterapkan di museum-museum luar negeri.

[caption id="attachment_1325" align="aligncenter" width="666"] Museum Nusantara adalah bukti kepedulian Bupati Purwakarta atas kesadaran sejarah generasi muda. Museum yang wajib dikunjungi saat Anda ke Purwakarta. (Foto: pribadi)[/caption]

Kebetulan baru minggu lalu saya mengunjungi British Museum dan Natural History Museum di London. Dua museum tersebut menggambarkan sejarah peradaban dunia termasuk juga Indonesia, walaupun hanya sedikit sekali dibandingkan dengan negara lain.
Sedangkan dua museum di Purwakarta menggambarkan sejarah peradaban Indonesia dan Kabupaten Purwakarta.

Kemudian kami sempat berkeliling melihat pembangunan kota Purwakarta. Kota yang dulu cuma tempat transit ini, sekarang telah berbenah menjadi kota pariwisata baru. Trotoar dibangun dengan rapi. Lampu-lampu gantung menghiasi jalan-jalan yang menambah cantik kota. Tak lupa kami melihat ikon baru kota Purwakarta yaitu Air Mancur Sri Baduga yang diklaim terbesar di Asia Tenggara, tampak berpagar tinggi dan membuat kota ini menjadi berbeda. Sayang karena sudah sore, pagar sudah terkunci. Jadi kami tidak sempat menikmati keindahannya.

Setelah itu kami meninjau Gedung Olahraga Purwakarta yang tampak baru dan megah. Ada GOR khusus beladiri, GOR tennis, dan GOR futsal. Tiga gedung yang menjadi satu. Sedangkan GOR bulutangkis dan basket berdiri di seberangnya. Semua gedung olahraga ini mempunyai fasilitas yang lengkap dan baru.

Saya sempat berbincang dengan Pak Iwan yang menjabat Kabid Olahraga Purwakarta. Ia bercerita tentang suksesnya sekolah sepak bola yang baru dirintis di Purwakarta. Tidak perlu waktu lama, 11 dari 28 orang siswanya telah dipilih oleh tim seleksi nasional untuk masuk di team nasional usia 16 tahun. Hebat bukan. Dan Tidak lama lagi Purwakarta akan membentuk dan mempunyai team sepakbola yang berlaga di divisi nasional.

[caption id="attachment_1326" align="aligncenter" width="655"] Kami berada di depan salah satu gedung olahraga yang baru dibangun di Purwakarta. Semoga bisa melahirkan juara dunia baru. (Foto: pribadi)[/caption]

Pembinaan olahraga memang harus sejak dini, terukur, berkelanjutan, dan dengan target yang jelas. Jika saja semua kabupaten di Indonesia mempunya visi yang sama dengan Kabupaten Purwakarta tentu akan banyak lahir juara dunia baru dari berbagai cabang olahraga yang saat ini sangat dibutuhkan Indonesia. Tentu saja pembangunan harus sejalan dengan potensi daerah, bakat, dan keahlian dari anak-anak di daerah tersebut. Juga kemampuan daerahnya. Pembangunan manusia dan pembangunan fasilitas pendidikan harus berjalan beriringan.

Hal ini sejalan dengan visi dan misi CJF, yaitu mencari anak-anak Indonesia yang berbakat untuk dididik dan dibina menjadi juara-juara dunia baru yang membanggakan Indonesia. Juga menjadikan olahraga khususnya tinju menjadi industri kreatif yang tidak hanya memberi prestasi yang membanggakan tapi juga bisa menjadi pilihan profesi yang menjamin masa depan.

Semoga saja kerjasama antara Chris John Foundation dan Pemerintah Kabupaten Purwakarta dapat segera terwujud. Sehingga akan ada destinasi sport tourism baru di Indonesia.

Zahrudin Haris
Read more

Tuesday, March 21, 2017

Transit

Transit. Untuk Anda yang akan atau tengah melakukan perjalanan jauh dan terburu-buru pasti alergi mendengar kata ini. Banyak alasan yang menyertainya, seperti "wah nanti capek turun naiknya", "tempat turun dan tempat naiknya jauh", " kelamaan nunggunya, kita nyampenya jadi telat" atau kalau yang harus transit dan ganti pesawat alasannya selalu "capek kalau harus keluar masuk imigrasi bisa nunggu berjam-jam, lama deh."

Sebenarnya transit bisa menyenangkan, kalau kita tahu cara menyiasati dan menikmatinya. Apalagi kalau sedang melaksanakan perjalanan wisata yang tidak buru-buru. Kita bisa mampir-mampir di banyak bandara yang tentu saja dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Yang pasti kalau mau mengurangi biaya ongkos pesawat, perbanyaklah transit. Karena makin banyak ganti pesawat, ongkos akan makin jauh lebih murah. Penerbangan yang jarak waktunya singkat atau pendek-pendek banyak dilakukan oleh maskapai berbudget rendah atau istilah kerennya low cost airline, seperti Air Asia, Lion Air, Tiger Air, dan lain-lain.

Bandingkan saja ongkos pesawat Jakarta-Tokyo, kalau kita pilih penerbangan langsung, harga bisa di atas sepuluh juta rupiah untuk pergi-pulang. Tapi kalau kita transit di Singapura atau Kuala Lumpur, meskipun dengan pesawat yang sama, harga jadi lebih murah. Bisa dua pertiganya. Sekitar enam sampai delapan juta rupiah. Apalagi kalau kita menggunakan maskapai berbiaya rendah seperti tersebut di atas. Maka harga akan turun setengahnya di angka empat sampai dengan lima juta rupiah. Cukup berhemat banyak bukan?

Begitu juga kalau kita terbang ke Korea atau Hongkong. Kalau kita beli tiket pesawat yang transit di Singapura, Kuala Lumpur atau Bangkok maka harga pesawat yang kita bayar jauh lebih murah daripada kita terbang langsung ke tujuan.

Saya juga telah membandingkan penerbangan untuk melakukan ibadah umroh dan Timur Tengah seperti Istanbul, dan Kairo. Atau terbang ke Eropa dengan tujuan London, Amterdam, dan Paris. Kalau kita transit di Kuala Lumpur harga bisa selisih tiga sampai dengan empat juta dibandingkan kalau kita langsung ke Jeddah, Madinah, Istanbul, Kairo, London, Amsterdam, dan Paris. Padahal dengan pesawat yang sama.

Apalagi kalau kita terbang dan transit dua kali via Colombo - Dubai atau Abudhabi baru ke kota-kota tersebut di atas. Harga bahkan bisa jauh lebih murah lagi, dibandingkan yang hanya transit satu kali di Kuala Lumpur atau Singapura. Kelebihan uang biaya tiket bisa dipakai buat biaya hotel, makan, dan beli oleh-oleh untuk keluarga.

Untuk mengisi waktu saat transit ada banyak hal yang dapat kita lakukan. Kalau transitnya lama, misalkan lebih dari 6 atau sampai 12 jam. Kita bisa ikut city tour yang setengah hari atau satu hari. Banyak maskapai yang menyediakan paket tersebut seperti Egypt Air di Kairo atau Air Asia di Kuala Lumpur. Kalau tidak tersedia bisa beli paket di internet atau langsung beli paket di bandara. Ada paket yang full board termasuk makan. Ada juga yang hanya mengantarkan ke tempat-tempat pariwisata, dengan bus eksekutif lengkap bersama pemandu wisatanya. Tak perlu khawatir, dua jam sebelum keberangkatan kita sudah diantar kembali ke bandara. Kapan lagi kita bisa mengenal satu kota persinggahan sebelum sampai tujuan terakhir kita? Tentu saja wawasan kita tentang suatu kota akan bertambah.

[caption id="attachment_1320" align="aligncenter" width="686"] Banyak gerai duty free yang tersedia seat Anda transit di Dubai Airport.(Foto: deal checker.co.uk)[/caption]

Bagaimana jika tidak mau ikut city tour dan ingin istirahat? Carilah sofa-sofa panjang yang sudah disiapkan di sejumlah bandara seperti di Mumbai, Dubai, Abu Dhabi, dan Kuala Lumpur.

Lalu, kalau transitnya hanya sebentar di rentang waktu 3-5 jam? Banyak hal yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau di bandara seperti Changi Singapura, Haneda Tokyo, Doha Qatar, Hongkong, Dubai, Abu Dhabi atau KLIA Kuala Lumpur. Masing-masing airport menyediakan banyak fasilitas buat transit. Kalau merasa gerah kita bisa membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia. Atau pergi ke mushola untuk melakukan ibadah shalat bagi yang muslim. Bisa juga nonton film di mini studio.

Buat yang hobi baca, bawa buku dari rumah dan cari sofa yang empuk buat selonjoran sambil baca buku. Buat yang merasa capek dan pegal-pegal karena perjalanan jauh bisa cari tempat pijat dan mengambil paket pijat setengah jam atau satu jam sambil tiduran.

Buat yang suka belanja bisa jalan-jalan window shopping di toko bebas cukai atau duty free dan bandingkan dengan harga-harga di bandara-bandara lainnnya. Atau yang suka nongkrong bisa cari kafe yang enak buat ngopi atau ngeteh sekadar bergosip bareng teman seperjalanan atau sambil memperhatikan orang yang lalu lalang dengan segala tingkah lakunya yang kadang cukup menghibur dan bikin ketawa. Hehe. Tentu semua mempunyai keasyikan sendiri. Tergantung apa yang kita suka.

Jadi sebenarnya transit bisa jadi membuat perjalanan kita makin irit, makin berwarna, menambah wawasan, dan makin menyenangkan. Tentu saja kalau kita bisa menyiasati dan menikmatinya.

Zahrudin Haris

 

 
Read more

Stand On The Right

Ada hal yang menarik ketika kita naik eskalator di kota London. Di tengah-tengah separator pembatas eskalator selalu ada tulisan Stand On the Right. Terutama di eskalator-eskalator yang terdapat di semua stasiun kereta api bawah tanah (UnderGround).

Tulisan tersebut meminta kita untuk berdiri di sebelah kanan jika kita hanya berdiam diri di eskalator yang membawa kita naik atau turun. Sedangkan di sebelah kiri digunakan untuk orang yang hendak berjalan dengan cepat di eskalator yang bergerak tersebut.

Saya melihat semua orang taat dengan aturan yang terpampang jelas di semua eskalator yang ada di stasiun, maupun yang tidak ada tulisannya seperti di mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan. Kesepakatan umum yang ditaati.

Hal ini berbeda ketika kita berada di Hongkong. Walaupun tidak ada peringatan tertulis, namun semua orang berdiri dengan tertib di sebelah kiri. Sedangkan di sebelah kanan itu untuk orang yang ingin bergerak dengan cepat. Begitu juga di Singapura, semua tertib berdiri di sebelah kiri.

Yang menarik justru dua kota besar yang ada di Jepang, yaitu Tokyo dan Osaka. Di Tokyo aturannya sama dengan di Hongkong, berdiri di sebelah kiri. Sementara di kota tetangganya Osaka justru menerapkan aturan berdiri di sebelah kanan sama dengan kota London.

Jadi kalau traveller liburan ke dua kota itu, ingatlah aturan ini karena kalau kita berdiri di sisi yang salah, mereka tidak akan segan menegur kita.

Hal yang sama juga terjadi di Australia, mereka menerapkan aturan yang sama dengan Inggris. Sedangkan kota-kota di Brazil seperti Rio de Janeiro dan Sao Paulo sama dengan Hongkong dan Singapura.

Indonesia sendiri tidak ada aturan seperti itu. Karena biasanya orang Indonesia tidak berjalan ketika berada di atas eskalator. Semua berdiri diam sampai perhentian terakhir. Jadi kalau kita ingin bergerak cepat ya harus bilang permisi berkali-kali. Ditambah lagi kecepatan rata-rata eskalator di Indonesia lebih lambat dibandingkan dengan London, Hongkong, dan Jepang. Karena kecepatan eskalator mereka berbanding lurus dengan kecepatan pergerakan mereka sehari-hari.

Zahrudin Haris
Read more

Friday, March 17, 2017

Mahalnya Transportasi di London

London memang terkenal kota yang sangat mahal. Baik untuk turis maupun untuk tinggal. Buktinya, kota ini selalu masuk 10 besar kota termahal di dunia dalam berbagai survey yang dilakukan oleh berbagai lembaga survey terpercaya.

Di London semua mahal. Harga apapun dibanderol di atas rata-rata harga kota-kota di Asia. Mungkin setaraf dengan Tokyo yang juga selalu masuk sebagai kota termahal di dunia.

Namun kali ini saya akan membahas harga rata-rata transportasi di London setelah beberapa hari di sini dan mencoba berbagai moda transportasi. Tarif taksi tentu yang paling mahal.

[caption id="attachment_1289" align="aligncenter" width="640"] Jika tak kepepet, hindari menggunakan taksi di London. Alasan ekonomis mesti dipertimbangkan. (Foto: Travel Today)[/caption]

Saya mencoba naik taksi dari Harrods menuju Oxford Street yang jaraknya tidak sampai 3 kilometer. Kira-kira dari Plaza Indonesia ke Mal Ambassador. Baru buka pintu sudah kena 2,40 pounds. Kemudian argo bergerak cepat sekali setiap 1 menit bertambah 40 sen. Tidak peduli dalam kondisi macet atau lampu merah, argo taksi tetap bergerak stabil. Hingga akhirnya begitu turun di Oxford Street saya harus membayar 11 pounds. Kalau dirupiahkan dengan kurs Rp. 17.000,- per pounds, maka setara dengan Rp. 187.000,-.  Hmmm... Saya yakin akan ada banyak demonstrasi antitaksi jika tarif semahal itu diterapkan di Jakarta. Hehehe...

Kemudian saya coba saingan taksi yaitu Uber. Taksi online yang telah empat tahun beroperasi di sini. Dengan jarak yang hampir sama dari Westferry ke Stepney Green dibanderol 6 pounds. Setara dengan Rp. 100.000,-. Hemat hampir separuhnya.


Setelah itu saya mencoba transportasi underground alias kereta bawah tanah. Sama seperti di Jakarta sekali ngetap, kita bisa berpindah-pindah kereta tanpa keluar stasiun, sesuai dengan tujuan kita. Namun tarifnya sepuluh kali lipat lebih mahal dari Jakarta. Jauh dekat dikenai 2,40 pound. Lebih dari empat puluh ribu rupiah. Bandingkan dengan Jakarta yang hanya Rp. 4000,-. Dari Kalibata bisa sampai Bogor. Jangan coba-coba tidak ngetap pas keluar, karena begitu kita masuk lagi, kita akan kena potongan 3 £. Lebih mahal dari tarifnya.


Di sini sering diadakan random check, baik pada saat keluar maupun di dalam kereta. Mereka memegang alat yang bisa ngecek kartu kita. Apakah ada saldo atau kosong. Jika ketauan saldo kita kosong atau kita tidak mempunyai tiket kereta, maka akan kena denda di tempat sebesar 40 pounds. Lebih dari Rp. 600.000,-.

[caption id="attachment_1290" align="aligncenter" width="640"] Bus adalah alat transportasi publik termurah di London. (Foto: Travel Today)[/caption]

Yang paling murah tentu saja tiket bus. Satu kali tap jarak jauh dekat kena 1,50 pounds. Namun naik bus sangat lama karena hampir setiap seratus meter berhenti menaikturunkan penumpang. Belum lagi kalau macet, jadi makin lama sampai di tujuan.

Untuk wisatawan dianjurkan untuk beli tiket hop on hop off yang dikelola oleh berbagai operator wisata. Dengan tarif 30 pounds kita dapat berkeliling kota London selama 48 jam. Bus ini hanya berhenti di dekat objek-objek wisata. Kita diberi peta petunjuk dan earphone yang terdapat di setiap kursi. Jadi kita benar-benar diarahkan. Setiap perhentian kita bisa turun mengunjungi destinasi wisata yang kita pilih. Kalau sudah selesai bisa balik lagi ke bus dan menuju destinasi wisata berikutnya. Dengan harga tersebut di atas kadang mereka berikan bonus free cruise tour di Sungai Thames.

Jadi, silahkan dipilih dengan bijak.
Zahrudin Haris
Read more

Thursday, March 16, 2017

Menyusuri Jejak Harry Potter di Oxford City

Begitu mendengar kata Oxford yang terlintas di pikiran setiap orang pastilah Oxford University. Perguruan tinggi ternama yang sangat terkenal karena beberapa kali menempati peringkat perguruan tinggi terbaik di dunia.

Saya sendiri sejak lama ingin sekali datang ke kota kecil ini. Bukan hanya ingin melihat tempat belajar siswa-siswa terbaik di dunia, namun juga ingin melihat tempat shooting Film Harry Potter yang diadaptasi dari novel hasil karya JK Rowling yang sangat saya kagumi. Untuk itu, mumpung di London saya menyisihkan satu hari khusus untuk datang ke kota ini.

Untuk menuju kota Oxford, kita harus naik Bus dari Terminal Bus Victoria di pusat kota London. Harga tiket 15 pounds sekali jalan dan 18 pounds jika peri-pulang. Saya sedikit heran karena sangat berbeda dengan di Indonesia, kalau pergi-pulang ya tinggal dikalikan dua.

Perjalanan ditempuh selama 1 jam 50 menit. Tepat waktu. Tidak ada istilah ngaret dan terlambat di sini. Saya duduk di tingkat dua bus eksekutif yang berpemanas ruangan. Saat ini musim dingin. Bus dilengkapi dengan wifi yang sangat baik, serta pemandangan sepanjang perjalanan yang sangat indah. Sehingga perjalanan yang setara dengan Jakarta-Bandung ini tidak terasa lama.

[caption id="attachment_1277" align="aligncenter" width="640"] Berjalan diantara bangunan-bangunan tua yang terawat di Oxford merupakan pengalaman tersendiri. (Foto: Travel Today)[/caption]

Begitu bus memasuki kota Oxford, saya terpesona dengan keindahan kota ini. Gedung-gedung tua yang cantik memenuhi sepanjang jalan berselang-seling dengan taman-taman terbuka yang menghijau.

Saya turun di perhentian terakhir di pusat kota. Saya menyempatkan diri bertanya kepada sopir bus, seorang wanita tua yang masih cantik namun sangat profesional di bidangnya. Saya menanyakan di mana letak kampus Universitas Oxford dan tempat shooting Harry Potter.

Ia memahami pertanyaan saya dan mengatakan bahwa tempat shooting Harry Potter terletak di Christ Church, sedangkan kampus Oxford ternyata ada banyak sekali. Sehingga ia balik bertanya mau ke kampus yang mana? Karena saya bingung, saya disarankan untuk berjalan-jalan menyusuri kota Oxford sambil melihat semua kampus yang dilalui.

Benar saja. Sepanjang perjalanan menuju Christ Church, saya merasa masuk ke suasana Eropa zaman dahulu kala yang ada di dalam film-film Harry Potter. Di kiri-kanan jalan, terdapat banyak kampus dan college dengan gedung-gedung indah dan berusia ratusan tahun. Begitu juga di setiap lorong-lorong yang saya lalui. Saya memperhatikan patung-patung dan relief-relief yang ada di dinding setiap gedung kota ini. Saya benar-benar dibawa ke kota-kota Inggris abad pertengahan.

[caption id="attachment_1279" align="aligncenter" width="640"] Sepeda merupakan alat transportasi utama di dalam kota Oxford. Menyehatkan dan tak berpolusi. (Foto: Travel Today)[/caption]

Ternyata kota Oxford adalah kota pelajar sekaligus kota wisata pendidikan. Ada puluhan college dan universitas yang berjajar memenuhi setiap sudut kota. Saya juga berpapasan dengan banyak grup pelajar yang juga turis yang datang dari seluruh dunia. Mereka berjalan bergerombol keluar masuk kampus dan college dipandu oleh seorang pramu wisata. Saya juga memperhatikan begitu banyak pelajar dari seluruh dunia yang baru keluar dari college dan kampus yang saya lalui.

Sebagian pulang berjalan kaki dan banyak juga yang naik sepeda. Sepeda tampaknya menjadi transportasi utama disini. Karena di setiap tempat dan sudut kota tampak berjejer sepeda terparkir dengan rapi. Melihat gaya berpakaian pelajar dan mahasiswa yang baru pulang persis sama seperti pakaian pelajar-pelajar yang ada di film Harry Potter. Toga yang mereka gunakan juga senada yaitu berwarna hitam dan putih.

Kemudian saya masuk ke semua kampus dan college yang saya lewati. Sungguh sekolah-sekolah ini tampak unik dan artistik. Semua gedung kampus dan college yang berusia ratusan tahun tersebut terbuka untuk dijelajahi para turis mulai pukul 2 sore sampai pukul 4.15 sore.

[caption id="attachment_1278" align="aligncenter" width="640"] Ini adalah area Christ Church. Di sinilah pengambilan gambar film Harry Potter dilakukan. (Foto: Travel Today)[/caption]

Ketika sampai di Chris Church, saya benar-benar terpukau. Komplek gereja yang sangat luas dan telah berusia ratusan tahun ini benar-benar indah. Saking tuanya, banyak dinding yang telah menyatu dengan tanaman. Gedung-gedung yang ada disini merupakan gambaran nyata dari film Harry Potter sesungguhnya. Tower-tower gereja tampak berdiri angkuh, kokoh, dan gagah. Mengingatkan saya ketika Harry dan teman-temannya terbang bermain mengelilinginya. Lapangan terbuka tempat Harry Potter bermain bersama teman-temannya juga tampak menghijau dan rapi. Pohon-pohon marble yang berjajar rapi dan sudah berusia ratusan tahun tampak meranggas kedinginan, menambah lengkap keindahan komplek gereja yang sangat luas ini. Buat saya yang datang dari negara tropis yang dipenuhi gedung-gedung baru pemandangan di sini sungguh menakjubkan.

Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan kota ini. Saya merasa seperti bermimpi dan memandang sedikit iri dengan mahasiswa yang merantau dan belajar disini. Jika saya masih mahasiswa, tentu saya akan berjuang untuk belajar dan tinggal di kota yang sangat indah ini.

Zahrudin Haris
Read more