Showing posts with label Travellers. Show all posts
Showing posts with label Travellers. Show all posts

Friday, February 3, 2017

Harapan Tahun Baru di Pulau Harapan (Bagian Pertama)

Tahun baru di Pulau Harapan merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Pengalaman yang menggelikan, menyenangkan, maupun menyedihkan saya rasakan saat itu.

Awal kisahnya dimulai dari sebuah rumah kontrakan. Ketika itu saya masih bertempat tinggal di Tebet bersama teman-teman saya. Mereka adalah Stewart sang presenter bola, Christoper sang peracik minuman, Stevie yang setengah mafia yang dibalut tato di sekujur tubuhnya, Andy sang montir, Adrian sang fotografer, Wendy sang juragan kuliner, dan saya sang desainer grafis.

[caption id="attachment_1100" align="aligncenter" width="640"] dari kiri: christoper, andy, adrian, demy, okta, stewart, stevie, andhika[/caption]

Menjelang akhir tahun kami masih tidak ada rencana untuk merayakan tahun baru di mana dan bagaimana. Bahkan, kami tidak berpikir bakal merayakan tahun baru.

Suatu malam seperti malam biasanya kami duduk bersama di ruang tamu dan bermain kartu capsa hingga larut malam. Di tengah permainan terdengar teriakan dari pacar Stevie yang bernama Oktavia, "Tahun baru ke Pulau Harapan yuk?" Sontak permainan kartu langsung berhenti menjadi pembahasan rencana tahun baru.

"Berapa harganya?" tanya saya.

"Sekitar 450 ribu,” sahut Okta. Berhubung saya tidak pernah ke sana, maka saya bertanya lebih lanjut kepada Okta, "Tinggalnya di mana? Hotel?"

Okta pun menjawab, "nanti kita tinggal bareng di satu cottage."

"Wahhh mewah dan murah dong," sahut saya. Dan Okta pun menjelaskan harga tersebut sudah termasuk makan sebanyak 3 kali dan transportasi. Kami pun tertarik dengan rencana yang diajukan Okta.

Sembari menunggu Okta yang sedang menelpon penjual paket tur tersebut saya googling apa dan bagaimana Pulau Harapan itu. Saya ketik "cottage pulau harapan" di kolom pencarian google. Muncul lah cottage-cottage mewah yang sekarang saya baru tahu kalau itu berada di Pulau Macan.

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah tanggal 31 Desember, kami bangun subuh untuk antre mandi. Maklum kamar mandi kami cuma satu. Saya apes mendapat giliran mandi setelah Stevie karena kebetulan dia mandi sekalian buang air besar. Ketika giliran mandi saya tiba, keadaan memaksa saya untuk menghirup aroma busuk binatang-binatang yang semalam dia konsumsi. Apes.

Kami berangkat ke Muara Angke menggunakan dua unit taksi. Perjalanan dimulai dengan jalan yang lapang. Sesampai di daerah Muara Angketerjadi kemacetan yang sangat panjang yang memaksa kami untuk berjalan kaki sepanjang kurang lebih 300 meter menuju lokasi pemberangkatan.

[caption id="attachment_1101" align="aligncenter" width="689"] gerbang muara angke, foto: Indoplaces.com[/caption]

Saya terkejut karena ternyata pelabuhan tersebut sekaligus pasar ikan dan semalam terjadi banjir di sana. Kubangan-kubangan banjir dan bau amis ikan bercampur menjadi satu. Kubangan tersebut setinggi betis saya. Baunya tidak bisa saya ungkapkan. Mungkin kalau anda menyelupkan singkong ke dalam air kubangan itu singkongnya langsung berubah jadi tape. Damn! Air kubangan itu pun bercipratan hingga ke kaos saya.

[caption id="attachment_1102" align="aligncenter" width="676"] pedagang ikan di muara angke, foto: TripAdvisor[/caption]

Saya ngedumel ke Stevie, "Pi, muambu, Pi. Kebacut ambune koyok sapiteng!" yang artinya, "Pi, bau, keterlaluan seperti septic tank."

Stevie pun menjawab enteng, "Gakpopo, kene lanang kudu kuat.” Artinya, tidak apa apa kita cowo harus kuat. Sialan. Hahaha. Tapi ternyata kata-kata Stevie membuat saya bersemangat lagi.

Tibalah di tempat keberangkatan dan saya melihat kapal yang akan kami gunakan untuk ke Pulau Harapan. Kapalnya ternyata sehari-hari difungsikan untuk mengangkut sayur-mayur dan binatang-binatang entah ayam, ikan, atau dinosaurus. Dan kami harus melompati beberapa perahu untuk sampai ke perahu kami. Hebatnya nenek-nenek pun harus melalui proses itu.

[caption id="attachment_1103" align="aligncenter" width="684"] proses menuju kapal, foto: m.tempo.co[/caption]

Saya lalu melompati satu per satu perahu tersebut dengan keterampilan skill ninja saya. Dan tiba di kapal saya tidak bisa melihat bentuk kapalnya karena terlalu banyak manusia di kapal itu. Serius… banyak sekali manusianya hingga gerak pun susah. Saya jadi malas menghitungnya.

[caption id="attachment_1104" align="aligncenter" width="800"] para manusia sedang melompat kapal satu ke kapal lainnya, foto: Okezone News[/caption]

Terus saya masuk ke bagian bawah kapal. Dan di bawah kapal lebih banyak orang lagi. Rontok hati saya melihat kondisi kapal seperti ini dan harus berada tiga jam dalam keadaan seperti ini.

[caption id="attachment_1105" align="aligncenter" width="710"] kondisi di dalam kapal (bayangkan anda di situ), foto: Kompas Print[/caption]

Kapal pun berangkat. Kami duduk di bagian belakang kapal beralaskan kardus air mineral. Saya duduk termenung berharap untuk segera sampai di Pulau Harapan.

Bersambung.....

Andhika Swarna Limantara, traveltoday
Read more

Sunday, December 4, 2016

Pesona Da Nang dan Hanoi

Saya suka traveling ke Vietnam, alasannya karena murah meriah. Kita sering mengeluh dengan kurs mata uang Rupiah, tapi di Vietnam kita berasa superior karena 1 IDR = 1,7 VND! Sudah beberapa kali saya ke Vietnam, pertama tahun 2006 dan terakhir Juni 2016 kemarin. Saya perhatikan perkembangan ekonomi Vietnam sangat dahsyat – dari mulai nggak ada restoran franchise global, sampai sekarang sudah ada mal mewah berjualan barang branded. Saat ini pun sudah semakin banyak orang lokal yang bisa berbahasa Inggris. Yang tetap sama adalah tayangan TV di-dub oleh suara satu orang ibu-ibu itu doang (baca di buku The Naked Traveler 2)!

Sayangnya, turis Indonesia ke Vietnam umumnya “mentok” di selatan yaitu di Ho Chi Minh City (HCMC), mungkin karena pesawat direct dari Indonesia adanya rute Jakarta-HCMC. Padahal banyak yang bisa di-explore di wilayah tengah dan utaranya yang merupakan tempat kedelapan situs UNESCO World Heritage Site. Ke tengah bisa dimulai di Da Nang, ke utara bisa dimulai di Hanoi.

Da Nang

Da Nang adalah kota terbesar di Central Vietnam. Dulunya Da Nang adalah pusat air baseAS saat Perang Vietnam, namun saat ini ia adalah kota yang paling modern dibanding kota-kota lainnya di Vietnam. Berada di sana serasa di negara maju karena bangunannya relatif baru dan bersih. Da Nang berpusat di Sungai Han yang dihubungkan dengan 2 jembatan cantik, yaitu Tran Thi Ly Bridge yang menyerupai layar kapal dan Dragon Bridge yang berbentuk naga. Pada malam hari, kedua jembatan tersebut menyala berwarna-warni jadi kece untuk difoto. Bahkan sekarang sudah ada Sun Wheel, kincir raksasa setinggi 115 meter.


Da Nang beach

Da Nang beach




Da Nang merupakan hub untuk mengunjungi situs bersejarah yang terdaftar dalam UNESCO Heritage Site seperti Hue (istana kekaisaran yang mirip Forbidden City di Beijing), Hoi An (kota kuno abad 15-19) dan My Son (kompleks candi Hindu abad 4-14). Alasan lain turis ke Da Nang adalah berwisata pantai. Di timur kota Da Nang terdapat pantai panjang berpasir putih, lengkap dengan resor mewah – bahkan masuk ke dalam salah satu dari World’s Most Luxurious Beach versi Forbes. Bisa dikatakan Da Nang adalah Bali-nya Vietnam, disukai turis asing maupun lokal. Event MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) berskala internasional pun sering diadakan di sana, seperti BMTM Danang 2016.


Marble Mountains

Marble Mountains




Highlight pariwisata Da Nang adalah Marble Mountains yang merupakan rangkaian 5 bukit yang kalau diterjemahkan bernama Gunung Tanah, Air, Api, Kayu dan Besi – masing-masing terdapat gua dan patung Buddha. Kalau punya waktu sebentar, pilih ke Thuy Son (Gunung Air) aja karena bisa naik pakai lift. Pemandangan dari puncaknya keren! Sedangkan situs pariwisata terbaru yang tak jauh dari Da Nang adalah Than Tai Hotspring. Luasnya 165 hektar di kaki gunung, terdiri dari berbagai macam kolam pemandian air panas dan air dingin, termasuk onsen ala Jepang.

Hanoi


20160625_104645

Patung di makam Giarai, Museum Ethnology, yg melambangkan kesuburan.




Dibanding HCMC yang kota bisnis, saya lebih suka Hanoi yang lebih tradisional, lebih hijau, dan cuaca lebih sejuk. Ada banyak museum dan temple di Hanoi, yang terkenal di antaranya adalah Ho Chi Minh Mausoleum, Ho Chi Minh Museum, dan Temple of Literature. Yang terbaru saya kunjungi adalah Museum of Ethnology tentang budaya suku-suku di Vietnam. Tapi sekedar jalan kaki atau nongkrong di sekitar Old Quarter dekat Hoan Kim Lake aja saya betah. Soal kuliner, di mana pun di Vietnam sih saya doyan, tapi di Hanoi lah mie Pho(dibaca “fe” dengan e pepet) diciptakan.

Atraksi utama di Hanoi adalah menonton Water Puppet alias pertunjukan wayang di air. Namun setahun ini ada atraksi baru, yaitu Ionah Show. Semacam pertunjukan Cirque du Soleil yang mencampurkan drama, aneka tari termasuk aireal dance, dan sirkus tanpa binatang. Meski plot ceritanya kurang jelas, saya acungkan jempol untuk para performers dan artistik panggung.


Halong Bay from the junk boat

Halong Bay from the junk boat




Tidak afdol ke Hanoi kalau tidak mengunjungi Ha Long Bay yang merupakan UNESCO Heritage Site. Untuk ketiga kalinya saya ke sana dan saya tetap kagum! Meski sama-sama terdiri dari ribuan pulau bertebing karst, berbeda dengan Raja Ampat, di Ha Long pulau-pulaunya lebih rapat satu sama lain dalam area yang lebih kecil. Berlayar naik junk boat (kapal tradisionalnya) cuma 15 menit aja udah memasuki gugusan kepulauannya. Di sebagian pulau terdapat gua-gua superluas yang bisa dimasuki dengan berbagai bentuk stalaktit dan stalagmit yang aneh. Ditambah lagi desa-desa apung para nelayan lokal yang masih tradisional. Jadi memang keren dan berkesan magis.


20160627_144931

Trang An




Selain perbukitan karst di Ha Long yang berada di laut, ada juga yang berada di darat, yaitu di Trang An Scenic Landscape Complex. Baru masuk daftar UNESCO Heritage Site pada 2014, Trang An dikelilingi sawah, hutan hijau, dan bukit-bukit karst setinggi sampai 200an meter. Menikmati pemandangannya, kita harus naik kapal kecil kapasitas 4 orang yang didayung oleh seorang ibu-ibu menyusuri sungai selama 3-4 jam. Kerennya lagi, selain bisa mengunjungi kuil-kuil Buddha, sambil naik kapal kita juga diajak keluar-masuk gua-gua sempit sampai badan harus menunduk takut nabrak stalaktit – tidak disarankan bagi penderita claustrophobic!

Tips

  • Vietnam bisa dikunjungi sepanjang tahun. Kalau tidak mau rame, hindari ke Vietnam pada musim panas Juni-Agustus karena pas musim liburan anak sekolah Vietnam. Harap diingat, di Hanoi pada musim winter Desember-Februari suhunya bisa di bawah 10°C dan sering tertutup kabut.

  • Lebih baik menukar mata uang US Dollar ke Vietnamese Dong seluruhnya. Meski sebagian toko bisa menggunakan Dollar, tapi lebih untung membayar dalam Dong karena di toko 1 USD dihargai 20.000 Dong padahal kurs 1 USD = 22.500 Dong (kurs Juni 2016).

  • Wi-Fi gratis banyak tersedia di Vietnam, kecepatannya pun lebih kencang daripada Indonesia. Namun bila ingin membeli SIM Card, beli aja di bandara yang banyak pilihan. Paket data 3G sebesar 5 Giga sekitar 100.000 Dong.

  • Dari Jakarta penerbangan ke Da Nang dan Hanoi bisa menggunakan Vietnam Airlinesdengan transit di Ho Chi Minh City.

  • Informasi pariwisata Vietnam, bisa dibaca di www.vietnamtourism.com


sumber: naked-traveler.com
Read more

Saturday, December 3, 2016

Nikmatnya Kota Layak Huni

Pada Maret 2015, hampir seminggu saya menghabiskan waktu di Brisbane, ibu kota negara bagian Queensland di Australia. Karena sudah beberapa kali ke Brisbane dan selalu sebagai turis ke tempat wisata, kali ini setiap hari saya kerjanya jalan-jalan sendirian tanpa arah. Sungguh saya sangat menikmati kota yang layak huni, seperti sebagai berikut;

  1. Pejalan kaki sangat dihargai


Ini lah yang saya kangeni dari traveling di (umumnya) negara maju – saya bebas berjalan kaki ke mana-mana tanpa rasa takut. Kotanya bersih, nyaris tak bersampah, trotoar lebar dan kondisi baik. Pengguna mobil pun menghargai pejalan kaki. Begitu satu kaki kita menginjak zebra cross, otomatis mobil berhenti.

  1. Transportasi umum yang baik


Meski di Brisbane tidak ada MRT, tapi bus banyak tersedia yang menjangkau ke mana-mana. Ada juga kereta api yang menghubungkan kota dengan suburb dan feri berupa catamaran di sepanjang sungai. Transportasi umum semua terjadwal dengan baik dan tepat waktu. Informasi jadwal dan peta jelas, baik offline maupun online.

  1. Sepeda gratis


20150302_100235Demi gaya hidup sehat dan mengurangi polusi, di Brisbane disediakan sepeda gratis yang ditaruh di 150 lokasi strategis. Kondisi sepeda baik, dilengkapi dengan helm pula. Jalur sepeda dibuat khusus, panjangnya sampai 27 km di tengah kota. Hebatnya lagi, di beberapa tempat disediakan kios gratis untuk mengisi angin. Siapa yang memodali? Iklan! Hebat kan?

 

  1. Banyak taman


Karena bersih dan tingkat polusi rendah, paling enak memang berkegiatan di luar ruangan. Saya banyak menghabiskan waktu dengan gogoleran di taman manapun di Brisbane, bahkan sampai boci (bobo ciang). Tamannya bersih, tanamannya rapih, pohonnya rindang. Tidak hanya taman, pemerintahnya pun menyediakan fasilitas pantai berpasir putih buatan gratis di South Bank Parklands. Kalau udah kepanasan, saya tinggal buka baju nyebur, trus jemuran di taman sebelahnya. Life guard pun selalu ada dan siap siaga menjaga. Ah, nikmatnya!


20150302_122828

Pantai gratis di tengah kota!





  1. Banyak instalasi seni


Sambil jalan-jalan, alangkah nikmatnya kalau ada instalasi seni sehingga pemandangan kota bukan hanya gedung belaka. Bukan sekedar dekorasi, tapi setiap instalasi diberi informasi tentang pembuat dan sejarah singkatnya. Para pematung dihargai. Tak hanya itu, sebagian jalan aspal dan trotoar pun dihias menarik. Siapa sih yang nggak pengin foto di depan instalasi seni yang menarik?

20150302_095305

  1. Atraksi gratis


Hiburan tidak hanya di nonton TV atau ke mal. Di Brisbane banyak atraksi gratis. Mulai dari membaca di perpustakaan di Brisbane City Council Library, museum keren seperti Queensland Art Gallery dan Gallery of Modern Art, bahkan pertunjukan musik dan stand up comedy di Brisbane Powerhouse. Semuanya profesional sehingga yang nonton juga menikmati.

20150302_133117

  1. Air kran yang bisa diminum


Kita selalu ribut nyari Wi-Fi gratis, padahal itu bukan kebutuhan utama manusia. Air minum aja kita masih bayar! Nikmatnya hidup di negara maju adalah air minum gratis yang tinggal glegek dari kran. Bayangkan berapa kita bisa menghemat kalau air minum gratis? Sampah plastik pun jadi minim.

  1. Free Wi-Fi


Meskipun demikian, di Brisbane juga tersedia Wi-Fi gratis yang disediakan oleh pemerintah kotanya. Memang waktunya terbatas, tapi mending banget untuk posting di media sosial dan untuk janjian ketemuan sama orang. Mengingat Australia adalah salah satu negara yang paling pelit kasih Wi-Fi gratis, Brisbane termasuk murah hati.

  1. Toilet umum yang bersih


Rasanya cuma di Australia yang tersedia banyak toilet umum dan letaknya strategis, jadi nggak usah ribet pura-pura masuk ke restoran kayak di Eropa. Di Brisbane pun demikian. Toilet umum tersedia di mana-mana, bersih dan gratis. Tisu gulung selalu ada. Air selalu nyala. Bahkan tersedia kamar mandi gratis untuk shower di dekat pantai.

  1. Fasilitas difabel


Ini ciri negara maju, para difabel disediakan fasilitas khusus. Jalan tak bertangga, toilet luas, pintu lebar, tempat khusus di bus yang bisa masuk kursi roda, dan lain lain. Tombol-tombol pun ada huruf Braile untuk tuna netra.

Tidak bijaksana juga membandingkannya dengan salah satu kota di Indonesia. Kita penduduknya sangat banyak dan tingkat ekonominya pun tidak merata. Tapi boleh dong saya mendambakan Indonesia akan seperti ini suatu saat?

sumber: naked-traveler.com
Read more