Showing posts with label Maumere. Show all posts
Showing posts with label Maumere. Show all posts

Tuesday, August 8, 2017

Melongok Keindahan Bukit Nilo Maumere, Peziarahan Maria Bunda Segala Bangsa

Jika Anda berada di Maumere, jangan lupa untuk melongok Bukit Nilo yang begitu terkenal itu. Di Bukit Nilo, bagi Anda pemeluk agama Katolik dapat sekaligus berziarah di kawasan Patung Maria Bunda Segala Bangsa.

Tempatnya akan membuat Anda terpana, karena terletak di atas bukit. Dimana Anda dapat menengok sisi timur samudera yang luas membiru dan hamparan Kota Maumere yang begitu eksotis. Jarak dari Kota Maumere pun tidak begitu jauh, kurang lebih sekitar 45 menit atau 15 kilometer. Bukit Nilo terletak di sekitar Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, yang membentang di atas Kota Maumere.

Suasana meditatif


Sebagai wisata ziarah, Bukit Nilo menghadirkan suasana meditatif yang nyaman. Mbak Agnes Bemoe dalam kompasiana.com pernah menuturkan pengalamannya berziarah di Bukit Noli ini.

[caption id="attachment_1617" align="aligncenter" width="800"] Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Bukit Noli, Maumere. (foto: Purwono Nugroho Adhi)[/caption]

Baginya, berziarah ke patung Maria Bunda Segala Bangsa, sungguh memberikan perasaan lain. Perasaan aman, damai, dan tenang. Ia merasa melihat Bunda Maria yang begitu besar, namun anggun dan teduh. Patung Bunda Maria begitu agung berdiri di atas sebuah bukit hijau nan asri. Bila kita menatap wajahnya, wajahnya seolah-olah bercahaya di bawah kilau sinar matahari. Langit biru dan awan putih seolah-olah dekat dan sesekali sekawanan burung terbang melintasi dan memencar di sekitar.

Maka, luangkan waktu ketika Anda mengunjungi Maumere, bersinggahlah di Patung Bunda Maria Segala Bangsa. Diperkirakan patung yang tegar berdiri di bukit Noli ini, terbuat dari perunggu dan memiliki ketinggian kurang lebih 28 meter. Tempat peziarahan Bukit Noli ini dibangun oleh Tarekat Pasionis bekerja sama dengan umat Katolik di Maumere.
Read more

Menikmati Pesona Danau Kelimutu dari Pesawat ATR

Jika Anda bertolak dari Bandara Udara Frans Seda Maumere Nusa Tenggara Timur, jangan lupa nikmati keindahan gunung dan Danau Kelimutu yang eksotis. Apalagi, ujung sebelah utara landasan menghadap langsung lautan biru yang membentang, sedangkan ujung selatannya menghadap perbukitan savana yang menawan.

Biasanya pesawat sejenis ATR 72-500 atau 600 selepas lepas landas kurang lebih 15 menit, akan berkeliling sebentar melewati eksotisme Gunung Kelimutu dengan danau warna yang begitu elok. Syukur, jika Anda beruntung, sang pilot akan memandu dan akan memberi kesempatan berputar selama dua kali mengelilingi Gunung Kalimutu dengan keindahan danaunya itu.

Danau Kelimutu memang menawarkan sensasi tersendiri jika dilihat dari panorama jendela pesawat, khususnya pesawat perintis semacam ATR. Hal itu, karena Anda dapat dengan mudah mengabadikan secara seksama.

Pesawat akan melaju dengan kecepatan dan ketinggian penerbangan yang terjangkau. Tentu keindahan dari panorama jendela itu akan membuat Danau Kelimutu memberikan cerita tersendiri, apalagi cerita mitologinya yang menarik.

Mitologi tiga danau


Seperti apa yang pernah ditulis oleh Riris Syafitri W. dalam phinemo.com, ada tiga danau berbeda warna di sana. Ada danau yang berwarna kecokelatan yang letaknya terpisah dengan yang lain, dan dua danau yang berdekatan berwarna kebiruan dan kehijauan.

[caption id="attachment_1612" align="aligncenter" width="900"] foto: Purwono Nugroho Adhi[/caption]

Danau yang berwarna hijau disebut “Tiwu Ata Mbupu,” konon adalah danau yang dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah para orang tua yang sudah meninggal dengan tenang.

Sedangkan danau yang berwana kebiruan yang disebut “Tiwu Nuwa Muri Koo Fai” konon dipercaya sebagai tempat orang meninggal dalam keadaan masih muda atau belum menikah namun perbuatan baik semasa hidupnya.

Danau ketiga disebut “Tiwu Ata Polo”, yang berwarna kecokelatan, konon dipercaya sebagai tempat berkumpulnya arwah orang meninggal yang semasa hidupnya berbuat tercela.

Dalam Tempo.co, pernah dibahas juga bahwa sejumlah ilmuwan menduga, perubahan warna danau terjadi karena aktivitas gunung api, pembiasan cahaya matahari, mikrobiota air, zat kimia yang terlarut, adanya ganggang, dan pantulan warna dasar danau. Namun, ada yang menduga bahwa perubahan warna danau karena disebabkan oleh proses geokimia.

Maka, silakan Anda nikmati dan luangkan sejenak ketika melintasi kawasan danau Kelimutu ketika Anda terbang meninggalkan Bandara Frans Seda Maumere. Jangan tutup jendela Anda, bukalah dan lihatlah sisi kanan atau kiri Anda. Anda akan menikmati eksotisme Kawasan Kelimutu yang telah ditetapkan menjadi Kawasan Konservasi Alam Nasional sejak 26 Februari 1992.
Read more