Showing posts with label Bengkulu. Show all posts
Showing posts with label Bengkulu. Show all posts

Tuesday, May 16, 2017

Pantai Panjang Bengkulu Sebuah Destinasi Baru

Adakah yang mengenal Pantai Panjang? Jika ada, bisa jadi jumlahnya belum banyak. Atau sangat mungkin hanyalah para wisatawan domestik.

Bengkulu, kota di pesisir barat Pulau Sumatera yang berbatasan dengan Lampung, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat ini, belum terlalu akrab di telinga para wisatawan. Baik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Padahal jika terbang dari Jakarta hanya memakan waktu 50 menit saja. Jauh lebih dekat dari Bali atau Surabaya. Jaraknya hampir sama dengan Batam dan Belitung yang sekarang mulai banyak di kunjungi wisatawan domestik.

Sebenarnya ada banyak destinasi wisata yang menarik di Bengkulu. Baik wisata budaya, seperti Festival Tabot yang diadakan setiap tahun dan dihadiri ribuan masyarakat. Wisata sejarah dengan hadirnya Benteng Marlborough, rumah pengasingan Bung Karno, Rumah Ibu Fatmawati dan juga Museum Bengkulu.
Kekayaan wisata alam di Bengkulu

[caption id="attachment_1448" align="aligncenter" width="640"] Jika dikelola dengan baik, Pantai Panjang akan menjadi destinasi favorit wisatawan jika mereka ke Bengkulu. (Foto: ZH/traveltoday)[/caption]

Wisata alamnya justru lebih banyak pilihan. Disini ada beberapa danau yang cantik namun belum tersentuh investor untuk mengelolanya sebagai destinasi wisata. Ada bunga bangkai atau Bunga Raflessia Arnoldi yang tumbuh musiman dan sangat terkenal di dunia. Bukit-bukit yang bisa didaki untuk penggila hiking dan treking. Dan yang paling utama tentu saja pantai-pantai yang memanjang puluhan kilometer di kota Bengkulu. Salah satu yang terkenal dan sudah menjadi tujuan wisata utama di Bengkulu adalah Pantai Panjang.

Pantai ini mengingatkan saya akan pantai Ipanema dan pantai Copacabana di Rio De Janeiro, Brazil. Itu karena letaknya yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari pusat kota, pasirnya yang putih dan halus, ombaknya yang cukup besar, dan setiap sore anak-anak bermain bola serta bersantai menikmati sunset di tepinya.

Yang membedakan, tentu saja Ipanema dan Copacabana sudah mendunia. Sedangkan Pantai Panjang baru dikunjungi wisatawan domestik. Itupun belum ramai.

Perbedaan utama lainnya, di sepanjang pantai Ipanema dan Cobacabana, kita bebas berenang dan bermain selancar air dan melakukan olahraga air lainnya. Tapi itu tidak dapat dilakukan di Pantai Panjang.

Di beberapa bagian pantai ini terdapat palung laut dan ombak bawahnya yang lebih besar. Sehingga banyak perenang yang sering terjebak dan terbawa arus ke tengah. Hal ini cukup membahayakan. Menurut cerita penduduk setempat sudah banyak korban di pantai ini. Saya tidak melihat penjaga pantai, tanda bahaya, dan larangan untuk pengunjung.

Semestinya bisa dilakukan penelitian terhadap daerah-daerah yang berbahaya. Kemudian dipasanglah tanda bahaya di sana. Semakin banyak korban akibat ketidaktahuan tentu akan merugikan pariwisata di pantai ini.

Sedangkan di tempat yang aman bisa disediakan tali-tali pembatas dengan drum-drum besar yang di bawahnya terdapat jaring pengaman. Seperti yang saya lihat di Pantai Pattaya, Thailand. Sehingga para wisatawan dapat berenang dan tahu batasan keselamatan yang tidak boleh dilanggar.

Keberadaan para penjaga pantai sangat perlu. Selain akan memberikan rasa aman kepada para pengunjung, keahlian mereka sangat diperlukan dalam situasi darurat.
Pantai Tapak Paderi

Sebenarnya ada pantai yang sudah ditetapkan sebagai tempat berenang dan olahraga air, yaitu Pantai Tapak Paderi. Letaknya di depan Benteng Marlborough. Letaknya sangat strategis dan jarak tepi ke bibir pantai juga sangat luas.

Namun sayangnya pantai ini sangat kotor dan berantakan. Sampah bertebaran dimana-mana. Rumput tumbuh dengan tinggi dan merambat dengan liar. Pedagang dan penyewa ban memasang tenda semaunya.  Perahu-perahu nelayan juga parkir di sembarang tempat. Benar-benar merusak pemandangan. Miris melihatnya.

Pantai Tapak Paderi sangat potensial untuk dijadikan arena water sport layaknya Benoa Bali. Tentu saja jika saja pantai ini dibuat rapi dan dikelola dengan baik. Bisa juga dikembangkan sebagai tempat berenang dan destinasi favorit keluarga layaknya Pantai Ancol di Jakarta.
Pantai-pantai tematik

[caption id="attachment_1447" align="aligncenter" width="640"] Anda bisa melihat betapa luasnya hamparan pasir putih di Pantai Panjang, Bengkulu ini. Perlu sentuhan profesional.[/caption]

Saya telah menyusuri pantai-pantai yang ada di kota Bengkulu. Mulai dari Pantai Tapak Paderi sampai ujung Pantai Pasir Panjang yang panjangnya lebih dari 5 kilometer. Saya membayangkan jika saja pantai-pantai yang aslinya sudah indah ini dikelola dengan baik. Tentu akan sangat menyenangkan.

Perlu dibuat beberapa atraksi menarik di sana. Bayangkan jika ada pantai khusus untuk rekreasi keluarga yang bisa buat berenang, main pasir bersama anak-anak dan berbagai fasilitas menarik lainnya. Mungkin juga ada pantai yang khusus untuk olahraga air yang menyediakan banana boat, jet sky, parasailing, kano, dan lain-lainnya.

Pantai khusus untuk olahraga pantai juga bisa dijadikan alternatif pengembangan. Di sana bisa dijadikan arena voly pantai, tenis pantai, futsal, alat-alat gym outdoor, dan beberapa olahraga lainnya. Seperti pantai-pantai khusus olahraga di Sydney Australia.

Memadukan wisata alam dan seni pun menarik. Bukan tidak mungkin ada pantai yang disiapkan khusus untuk para musisi menampilkan keahlian mereka menghibur para pengunjung pantai. Dengan panggung kecil dan tempat-tempat duduk pantai layaknya Pantai Seminyak, Bali.

Di bagian ujung Pantai Panjang terdapat gugusan pohon cemara. Rasanya akan menarik jika dijadikan untuk outing dan gathering baik bagi perusahaan maupun keluarga. Dari pohon ke pohon tersebut bisa dibuat banyak permainan ketangkasan untuk menguji ketangkasan dan adrenalin pengunjung.

Sedangkan yang paling ujung sekali bisa dibuat pantai khusus untuk orang yang menyukai ketenangan. Pantai ini khusus untuk para pembaca buku, orang-orang tua yang menyukai kesunyian, dan pasangan-pasangan yang tidak ingin diganggu. Mungkin tepat juga untuk pelancong yang sekadar ingin berjemur dan tiduran di pantai dan para pemancing yang menyukai ketenangan dan tak ingin pancing mereka terkait para pengunjung lainnya.

Jika pantai-pantai tematik ini bisa dibuat di Bengkulu. Tentu saja akan sangat menarik bagi para wisatawan. Promosi pantai pun akan sangat mudah. Karena sasarannya sudah sangat jelas. Semua tempat tersebut ada penikmatnya. Wisatawan yang datang bisa langsung memilih tempat sesuai seperti yang mereka inginkan.

Dan jika bosan mereka bisa berpindah-pindah tempat sesuai dengan keinginannya. Ada banyak atraksi pantai yang dapat mereka lakukan. Sehingga waktu kunjungan mereka akan lebih lama. Karena jualan pantai bukan hanya sekedar keindahannya tapi selain itu apa yang dapat mereka lakukan di sana, yang membuat wisatawan betah berlama-lama.
Menggandeng investor dan profesional

Sudah saatnya pemerintah daerah Bengkulu mengajak kerjasama pihak swasta yang profesional dan berpengalaman dibidangnya, untuk mengelola pantai-pantai indah tersebut. Sehingga menjadi destinasi wisata baru yang bisa menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

Imbasnya bukan hanya menambah penghasilan daerah tapi juga akan menyentuh semua industri yang berhubungan secara langsung dengan pariwisata. Seperti transportasi, perhotelan, kuliner, produk kerajinan rakyat, usaha tour & travel, serta industri kecil dan menengah lainnya.

Dengan segala potensi alam tadi, Bengkulu tak seharusnya teringgal dari daerah lainnya. Semoga…. (zh)
Read more

Wednesday, May 10, 2017

Benteng Marlborough Saksi Bisu Penjajahan Empat Negara

Untuk mengetahui sejarah panjang kolonialisme yang pernah terjadi di Indonesia datanglah ke Bengkulu. Di kota ini terdapat bentuk peninggalan penjajahan yang sangat besar berupa benteng yang diberi nama Benteng Marlborough atau Fort Malborough.

Menilik sejarahnya, benteng ini dibangun selama 5 tahun oleh Inggris. Pembangunan dimulai dari tahun 1714 dan selesai tahun 1719. Benteng Marlborough dibangun karena Benteng York yang sebelumnya telah dibangun di tepi muara Sungai Serut yang dikelilingi rawa-rawa, menyebabkan banyak warga Inggris meninggal. Mereka terjangkit malaria, disentri dan TBC.

Inggris kemudian mengadakan pendekatan kepada raja-raja Bengkulu. Hasilnya Inggris mendapatkan lokasi yang lebih luas dan lebih strategis di bukit kecil tepi Pantai Tapak Paderi.

Pembangunannya dikerjakan oleh arsitek dan para pekerja yang didatangkan dari India. Pemberian nama Fort Marlborough adalah sebagai kenangan kepada seorang komandan militer asal Inggris yang bernama John Churchill, yang terkenal sebagai "The First Duke Of Marlborough".
Menelusuri Benteng Marlborough

[caption id="attachment_1429" align="aligncenter" width="640"] Mari masuki Fort Marlborough... (foto: ZH/traveltoday)[/caption]

Dengan membayar Rp5000 saja, kita sudah bisa masuk dan menjelajahi benteng ini. Begitu masuk gerbang pertama di sebelah kiri ada 3 kuburan perwira Inggris yang dikuburkan di sini.

Kemudian kita akan menyeberangi jembatan untuk menuju gerbang kedua. Di bawah jembatan terdapat seperti sungai kecil dengan rumput yang rapi. Dulu sungai ini berisi ranjau darat yang menghalangi semua orang untuk mendekati benteng dan menghalau semua serangan darat ke Benteng Marlborough.

Kemudian kita akan memasuki pintu gerbang kayu yang sangat tebal dengan mur-mur baja yang sangat kuat. Pintu gerbang ini mengingatkan kita akan pintu-pintu gerbang benteng di China. Walaupun usianya sudah ratusan tahun namun masih tampak sangat kuat dan kokoh.

Begitu memasuki ruangan di sebelah kiri, maka kita akan diajak untuk membaca sejarah Bengkulu dan kolonialisme di Indonesia. Diawali dengan kejayaan kerajaan-kerajaan yang ada di Bengkulu. Kemudian masuknya delegasi perdagangan dari Inggris yang akhirnya menguasai Bengkulu. Tukar guling Inggris dan Belanda ditandai dengan traktat London pada tahun 1824. Dimana Inggris pindah ke Singapura yang dikuasai oleh Belanda dan Belanda kemudian menguasai Bengkulu sampai tahun 1942.

Setelah kekalahan sekutu oleh Jepang, Belanda terusir dan Jepang menguasai Bengkulu hingga tahun 1945. Jepang membangun bunker-bunker perlindungan di sisi luar benteng ini untuk bertahan dari serangan musuh.

Setelah kekalahan Jepang, kemudian Indonesia menyatakan kemerdekaannya. Benteng Marlborough ini dikuasai oleh Indonesia dan digunakan sebagai markas Polri. Kemudian jatuh lagi ke tangan Belanda setelah Belanda membonceng sekutu dan melakukan Agresi Militer I dan II di tahun 1949.

Setelah berlangsungnya Perjanjian Meja Bundar, Benteng Marlborough benar-benar menjadi milik Indonesia.

Ketika hampir selesai pembangunannya di tahun 1718, benteng ini pernah diserang dan diduduki oleh rakyat Bengkulu yang dipimpin oleh Pangeran Jenggalu. Inggris sempat kabur ke Madras, India. Tetapi kembali ke Bengkulu di tahun 1724 setelah mengadakan perjanjian damai dengan kerajaan Sungai Lemau yang menguasai Bengkulu kala itu.

Kemudian tahun 1760 Benteng ini diserang oleh 500 lebih pasukan Perancis yang dipimpin oleh Comte D'Estaing. Namun kemudian diserahkan lagi ke Inggris di tahun 1963 setelah penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Inggris dan Perancis.

Tahun 1807 terjadi gerakan sosial perlawanan petani kopi karena protes dengan sistem pertanian yang dipaksakan yang dikenal dengan nama Peristiwa Mount Fellik. Thomas Parr dibunuh di Mount Fellik dan dimakamkan di dekat pintu masuk Benteng Marlborough ini.

Begitu banyak peristiwa yang terjadi di Benteng Marlborough. Benteng yang sampai saat ini masih berdiri sangat kokoh ini telah menjadi saksi bisu dan sejarah panjang perjuangan kolonialisme yang berkedok perdagangan di Indonesia. Dan juga saksi atas perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajahan.

Benteng Marlborough memiliki panjang 240,5 meter dan lebar 170,5 meter. Sedangkan ketebalan temboknya mencapai 3 meter. Hal ini dapat kita lihat begitu kita masuk ruangan sisi kanan. Terdapat dua ruangan penjara yang ada jendelanya dengan dua tirai besi. Pada saat itu penjara ini diisi oleh tokoh-tokoh politik tahanan perang. Terdapat gambar kompas dan goresan berbahasa Belanda ketika tokoh politik Belanda ditahan Jepang.

Selanjutnya kita akan masuk ke halaman terbuka dengan banyak meriam yang moncongnya mengarah ke laut. Di sisi kanan terdapat beberapa ruangan penghuni dengan banyak pintu. Yang membuat penghuni ruangan bisa kabur dari pintu mana saja ketika ada serangan.

Sedangkan di bagian depan terdapat gedung memanjang dengan deretan ruangan yang di gerbang utamanya bertuliskan "Kantor East India Company".

Kemudian kita bisa naik tangga ke lantai dua ujung kiri. Dari sini kita bisa melihat ke laut lepas. Dahulu di bawah benteng ini langsung laut. Namun karena pennyusutan air laut yang terus menerus, maka jarak benteng dengan laut semakin jauh.

Di atas sini juga terdapat meriam yang diarahkan kelaut. Dan di bawahnya adalah gudang senjata. Ditengah ada lubang berbentuk sumur untuk memasok senjata keatas. Duduklah di atas dinding beton yang ada. Memandanglah jauh ke laut lepas dan bayangkanlah semua peristiwa yang telah terjadi di Fort Marlborough ini.

Setelah puas, kita dapat mengitari benteng setengah lingkaran berbentuk U ke sisi lainnya. Atap benteng masih tampak sangat kokoh dan kuat. Seperti menyusuri tembok-tembok benteng di Eropa. Sangat berbeda dengan bangunan-bangunan yang ada sekarang. Pemandangan dari atas benteng ini cukup indah. Sekeliling benteng ditumbuhi rumput hijau yang menjadi tempat bermain anak-anak.

Selesai dari benteng Marlborough ini, kita bisa melanjutkan perjalanan wisata sejarah Indonesia dengan mengunjungi rumah pengasingan Bung Karno dan juga Ibu Fatmawati. Bagaimana Bung Karno mengisi hari-harinya di pengasingan dengan banyak kegiatan. Termasuk menggambar dan membangun masjid beratap rumah limas khas Melayu yang terletak di pusat kota Bengkulu hingga akhirnya bertemu tambatan hatinya Ibu Fatmawati.

Betapa kota Bengkulu telah menjadi saksi sejarah dari perjuangan rakyat Indonesia melawan imperialisme. Dari mulai masuknya Inggris, Perancis, kemudian Belanda dan Jepang. Mereka telah meninggalkan jejak-jejak yang sangat besar di bumi Bengkulu.

Jadi berwisatalah dan belajarlah sejarah Indonesia ke Kota Bengkulu. (zh)
Read more